Perjuangan Para Lulusan Terbaik Wisudawan Universitas PGRI Madiun

106
BANGGA: Para wisudawan terbaik Universitas PGRI Madiun dengan IPK tertinggi dari masing-masing program studi sesaat sebelum prosesi wisuda.

Dari 1.145 wisudawan Universitas PGRI Madiun terselip 18 nama lulusan terbaik. Mereka memiliki kisah perjalanan panjang selama mengenyam pendidikan. Bahkan beberapa di antaranya mengibarkan bendera Kota Madiun di kancah nasional. Bersaing dengan seluruh mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Tanah Air.

—————

NUR WACHID, Madiun, Jawa Pos Radar Madiun

AIR mata tumpah bersamaan 18 nama wisudawan terbaik disebutkan dalam gladi bersih prosesi wisuda Universitas PGRI Madiun (Unipma), Rabu (21/8). Haru dan bahagia bercampur menjadi satu. 18 wisudawan itu kemudian bangkit dari tempat duduknya. Menuju ke podium menghadap ke seluruh undangan yang hadir. Mereka adalah wisudawan dengan indeks prestasi komulatif (IPK) terbaik dari program studi masing-masing.

Masing-masing wisudawan terbaik memiliki perjalanan dan perjuangan masing-masing. Hingga dinobatkan menjadi terbaik di antara yang terbaik. Pun raihan itu bukanlah akhir dari perjuangan. Melainkan pintu gerbang awal menghadapi kehidupan bermasyarakat yang nyata. Serta tonggak awal menjadi generasi unggul menjawab tantangan perkembangan zaman. ’’Tidak dapat diucapkan dengan kata-kata. Wabil khusus kami ucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh civitas akademika Unipma,’’ kata Novalia Bella Safira, wisudawan terbaik dari Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris yang juga ditunjuk memberikan sambutan sebagai wakil mahasiswa saat proses wisuda.

Sedikitnya 18 wisudawan menjadi lulusan terbaik di antara 1.145 wisudawan Universitas PGRI Madiun tahun ini. Mereka yang terbaik merupakan peraih IPK tertinggi dengan predikat cumlaude dari program studi masing-masing. Yakni Agnes Adriana dari Pascasarjana Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (PPIPS) dengan raihan IPK 3,86, Dinda Meydila dari Pascasarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PPBSI) dengan IPK 3,86, Padma Jati Hilmiyah dari Prodi Pendidikan Matematika dengan IPK 3,81, Nurma Mutiara Zahra dari Pendidikan Fisika dengan IPK 3,86, Novanda Eka Saputra dari Pendidikan Biologi dengan IPK 3,91, Rizki Ramatus Mardiyah dari Pendidikan BK dengan IPK 3,78, Famela Anjar Uswati dari Pendidikan PGSD dengan IPK 3,90, Fera Yuniya Setiyani dari Pendidikan PAUD dengan IPK 3,86, Shabrina Sabila El Haq dari Pendidikan Sejarah dengan IPK 3,91, Nenis Evita Nurlaviastuti dari Pendidikan Ekonomi dengan IPK 3,86.

Nurma Mustika dari Pendidikan PPKn dengan IPK 3,83, Anik Mega Cahyani dari Pendidikan Akutansi dengan IPK 3,90, Tities Mubyar Palupi dari Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dengan IPK 3,95, Novalia Bella Safira dari Pendidikan Bahasa Inggris dengan IPK 3,95, Rizky Dwi Wasesa dari Pendidikan Elektro dengan IPK 3,73, Irsyadul Asyrofin dari Teknik Informatika dengan IPK 3,87, Yudha Wira Pratama dari Prodi Manajemen dengan IPK 3,96, dan Rita Susiana dari Prodi Akutansi dengan IPK 3,88. ‘’Ini adalah prestasi yang saya persembahkan untuk keluarga,’’ lanjutnya.

Bagi Novanda Eka Saputra, salah satu wisudawan terbaik dari Prodi Pendidikan Biologi raihan itu didapatkan dari totalitas saat proses pembelajaran. Termasuk mengerjakan setiap tugas yang diberikan dosen. Pun dia menikmati setiap pembelajaran selama menempuh studi. Apalagi sistem pembelajaran konvensional sudah tidak diterapkan. Disesuaikan dengan perkembangan zaman yang membuatnya betah dan kangen dengan situasi pembelajaran. Novan tidak hanya menjadi wisudawan terbaik, dia juga meraih prestasi. Terbaru beberapa hari ke depan, dua program kreativitas mahasiswa (PKM) garapannya dan tiga PKM dari mahasiswa lainnya yang didanai Dirjen Dikti lolos ke Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) di Universitas Udayana Bali. ‘’Mewakili Unipma di kancah nasional. Targetnya juara, bismillah,’’ kata Novanda.

Bekal ilmu yang telah didapat menjadi modal menghadapi tantangan perkembangan zaman. Rita Susiana, wisudawan terbaik dari Prodi Akutansi mengungkapkan bekal ilmu yang telah didapatkan menjadi modal utama memasuki dunia kerja. Selain itu, raihan tersebut juga menjadi bekal tersendiri bagi mahasiswa asal Ngawi kelahiran 1997 itu bersaing di era digital ini. Itu ditanamkan kepadanya sejak menjadi mahasiswa baru. ‘’Kampus kami memiliki jargon sebagai kampus Smart and Competitive. Terima kasih kepada dosen dan keluarga besar Unipma,’’ ucapnya. ***** (ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here