Lucky Aldianzah Jago Mainkan Caplokan

245

Darah seni mengalir di tubuh Lucky Aldianzah dari kakek buyutnya yang seorang pembarong reyog. Selain piawai mengibaskan dadak merak, pemuda itu juga lihai memainkan caplokan. Bersama kelompok seni jaranan dia kerap beratraksi.

————–

SORE itu Lucky Aldianzah sedang duduk santai di teras rumahnya. Warga Desa Sirigan, Paron, ini sesekali tersenyum mengamati layar smartphone. Sejurus kemudian, keningnya berkerut. Bersamaan itu muncul suara khas gamelan Jawa dari ponsel pintarnya. ‘’Lihat kiriman video pas main jaranan beberapa waktu lalu,’’ kata Lucky.

Keseharian Lucky tak jauh dari yang namanya seni. Dia tercatat sebagai salah satu personel kelompok seni jaranan Sardulo Putro di desanya. Pemuda 20 tahun itu terbiasa memainkan caplokan. ‘’Mulai latihan nyaplok (memainkan caplokan, Red) saat masih SMP, pertengahan 2010,’’ ungkapnya.

Lucky kadung cinta mati dengan kesenian, meski berbagai risiko sempat dia alami. Setidaknya, keseleo ibarat sego-jangan baginya saat berlatih. Meringis kesakitan kala menggayung air ketika mandi pernah dia rasakan. Melangkah dengan tumpuan kaki tidak sempurna juga kerap dialaminya.

Berlatih menjadi dasar sebelum pentas di hadapan khalayak. Bermacam teknik dan gerakan mesti dihafalnya dengan menyelaraskan ketukan gamelan pengiring. Lucky sempat grogi saat kali pertama tampil. Rasa khawatir yang menjalarinya membuat putra pasangan Ade dan Kamini ini berhati-hati betul saat mengenakan caplokan. ‘’Lama-lama jadi terbiasa,’’ ujarnya.

Menginjak SMA, tanggapan semakin sering mendatangi kelompok seni jaranan yang diikutinya. Pun, grogi yang dirasakan Lucky lambat laun terkikis. Sebaliknya, dia kegirangan tiap kali pentas. ‘’Bulan April nanti ada tanggapan,’’ ucapnya riang.

Lucky kini sudah mahir memainkan caplokan dalam kesenian jaranan. Mulai jurus-jurus, gerakan sesuai irama musik pengiring, sampai alur pementasan sudah dikuasainya. Kendati demikian, beratraksi dengan barongan menyerupai kepala naga tersebut bukan tanpa risiko. Selain lengan pegal-pegal, ada juga adegan yang membuat Lucky hilang kesadaran. ‘’Beratraksi memakan kembang dan ayam atau ular hidup-hidup sudah pasti ada saat pentas,’’ ungkapnya.

Hal ini menjadi salah satu adegan dalam kesenian jaranan yang membuat penonton melongo keheranan. Namun, Lucky hanya bisa melihat dirinya yang begitu dari hasil jepretan atau rekaman video rekan-rekannya di kelompok seni. Saat masuk atraksi memakan kembang dan ayam atau ular secara hidup-hidup, dia tidak ingat apa-apa. ‘’Sadarnya setelah selesai. Seperti mau muntah gitu rasanya,’’ akunya.

Sebelum memainkan caplokan, Lucky lebih dulu mengenal kesenian reyog. Itu tidak lepas dari sebuah barongan yang dimiliki kakek buyutnya yang dulu merupakan pembarong reyog. ‘’Nggak tahu kenapa. Senang gitu aja pas main,’’ kata Lucky. ***(deni kurniawan/isd/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here