LP3I Ngawi Tolak Aksi Bullying

557
TOLAK BULLYING: Siswanto dan Lutfi Arya foto bareng bersama sejumlah guru BK usai kegiatan seminar di kampus LP3I Ngawi.

NGAWI, Jawa Pos Radar Ngawi – Maraknya kasus bullying yang terjadi beberapa waktu terakhir mendapat perhatian dari berbagai pihak. Tak terkecuali Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Profesi Indonesia (LP3I) Ngawi. ‘’Kami sebagai lembaga pendidikan vokasi merasa prihatin dengan hal itu (maraknya kasus bullying, Red),’’ kata Kepala LP3I Ngawi Siswanto Rabu (11/9).

Rasa keprihatinan itu pula yang mendorong LP3I Ngawi menggelar seminar dengan tema Peran Guru Bimbingan Konseling (BK) dalam Menyikapi Bullying pada Peserta Didik. Kegiatan yang digelar kemarin di kampus LP3I Ngawi itu diikuti sekitar 70 guru BK dari Ngawi, Magetan, Madiun, Bojonegoro, Blora, serta Sragen, Jawa Tengah.

LP3I Ngawi sengaja mengundang seorang psikolog dari Universitas Hang Tuah Surabaya Lutfi Arya sebagai pemateri. Melalui kegiatan seminar tersebut, Siswanto berharap ke depan pendidikan karakter yang selama ini menjadi keunggulan kampus LP3I Ngawi mampu membentuk kepribadian peserta didik yang baik. ‘’Sehingga mereka memiliki budi pekerti yang baik, profesional, beriman, dan bertakwa,’’ ujarnya.

LP3I Ngawi, lanjut dia, juga turut melakukan pengembangan soft skill dan hard skill yang mumpuni pada masing-masing peserta didik. Siswanto yakin, upaya-upaya tersebut kelak mampu meminimalkan kasus bullying yang akhir-akhir ini semakin marak terjadi. ‘’Baik yang terjadi di internal kampus maupun di lingkungan keluarga dan masyarakat,’’ imbuhnya.

Selain diikuti para guru BK dari beberapa daerah, kegiatan seminar kemarin dihadiri perwakilan Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur wilayah Madiun Samsul Hadi. Juga beberapa guru BK dari sekolah binaan LP3I Ngawi.

Lutfi Arya selaku pembicara seminar itu mengungkapkan bahwa upaya yang dilakukan kampus LP3I Ngawi sudah sangat tepat. ‘’Mereka mengundang semua guru BK untuk diajak bersama-sama menekan kasus bullying di sekolah,’’ katanya.

Menurut Lutfi, itu bentuk kepedulian yang tepat. Sebab, guru BK merupakan jangkar dalam penanganan kasus bullying pada siswa di sekolah. Melalui beberapa poin materi yang disampaikannya dalam kegiatan seminar itu, Lutfi berharap ke depan para guru BK yang hadir bisa memformulasikan sendiri penanganan kasus bullying di sekolah masing-masing. ‘’Tidak ada formula yang ampuh untuk mengatasi bullying kecuali pendekatan dari karakteristik sekolah masing-masing,’’ tegasnya. (ti9/tif/c1/isd/adv)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here