Liposos Bukan Tempat Terbaik ODHA

65

MADIUN – Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) tidak seharusnya tinggal di lingkungan pondok sosial (liposos). Kawasan permukiman di RT 27 RW 1 itu diperuntukkan gelandangan dan pengemis (gepeng).

Kabid Rehabilitasi Sosial Dinsos Kabupaten Madiun Tatuk Mahmawati mengutarakan, liposos lebih diperuntukkan gepeng seusai razia satpol PP. Karenanya, fungsinya hanya sebagai tempat penampungan sementara. Tetapi, banyak penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) yang sudah lama tinggal, ODHA pun ikut menetap di sana. ‘’Sebenarnya tidak layak untuk mereka (ODHA, Red),’’ ujarnya.

Tatuk pun menyayangkan bila ODHA memilih liposos sebagai tempat tinggalnya. Di sana, kata dia, tidak mendukung proses pendampingan medisnya. Pun, dinsos belum mengecek pasti, apakah ODHA yang disebut menetap itu tinggal di liposos atau bangunan warga di sekitarnya. ‘’Seharusnya, mereka tinggal di lingkungan yang baik,’’ tuturnya.

Memang, lanjut Tatuk, ODHA tergolong PMKS. Tetapi, penempatan dan pembinaannya khusus. Mereka biasanya dibantarkan ke panti rehabilitasi di Bogor, Jawa Barat. Namun, dinsos tak memberangkatkan satu pun ODHA di tahun ini. ‘’Adanya tahun lalu, warga Pilangkenceng,’’ sebutnya.

Di sana, ODHA tak hanya mendapatkan pelatihan. Namun, juga mendapatkan kontrol kesehatan secara rutin. Sehingga, pendampingan medis berjalan sebagaimana semestinya. Tentu lebih baik dibandingkan mereka yang memilih bertahan di liposos. ‘’Meskipun di liposos ada yang merawat, tetap tidak layak,’’ tegasnya.

Seyogianya, ODHA terkait berinisiatif mengikuti pemberangkatan ke tempat rehabilitasi yang lebih representatif. Dinsos pun tak akan memberangkatkan selama tiada pengajuan dari yang bersangkutan. ‘’Kami membuka kesempatan bagi yang ingin mendapatkan pendampingan dan pelatihan. Selama ada pengajuan, pasti kami berangkatkan,’’ katanya.

Tak Ada Pilihan, Penghuni Bertahan

SETENGAH kaki penghuni menempati lingkungan pondok sosial (liposos). Sewaktu-waktu mereka pun harus siap jika diminta angkat kaki. Secara administrasi, 43 dari 60 kepala keluarga (KK) di sana tercatat sebagai warga RT 27, RW 01, Desa Sambirejo, Kecamatan Jiwa, Kabupaten Madiun.

Setelah bertahun-tahun, liposos sampai kini tak ada tanda bakal difungsikan lagi. Kondisi itulah yang membuat penghuninya memilih bertahan daripada kembali ke kampung halamannya masing-masing. ‘’Sementara tetap bertahan di sini,’’ kata seorang penghuni.

Tatuk Mahmawati menegaskan bahwa liposos bakal difungsikan seperti sedia kala. Hanya, kabid Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Madiun itu belum mengetahui kapan persisnya. Butuh proses dan waktu panjang untuk memberi pemahaman kepada puluhan penghuninya. ‘’Kami tidak bisa langsung menertibkan begitu saja,’’ ujarnya.

Setelah difungsikan, liposos bakal ditambahi fasilitas rehabilitasi dan pelatihan keterampilan. Namun, itu lebih dikhususkan bagi gelandangan dan pengemis (gepeng).

Dia menyebut tempat itu bisa menjadi penampungan seperti sebagaimana mestinya. Pun, akan ada kegiatan rehabilitasi yang bakal dilakukan di tempat itu. Setelah berfungsi, liposos pun bakal lebih selektif menerima penghuni. ‘’Yang tinggal nantinya hanya gepeng,’’ terangnya.

(mg4/c1/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here