Lima Perampok Sekap Tiga Korban

205

NGAWI – Aksi perampokan terjadi di Desa Kawu, Kedunggalar, Ngawi, kemarin dini hari (16/4). Lima orang bertopeng menyatroni rumah dan toko kelontong milik Kinawati sekitar pukul 02.00. Selain menggondol duit Rp 7,5 juta, perhiasan emas 33 gram, dan puluhan slof rokok, para pelaku juga menyekap penghuni rumah. ’’Salah satu pelaku membawa semacam tombak, semua pakai topeng,’’ tutur Kinawati kepada Radar Ngawi.

Sesaat sebelum kejadian, dia sempat curiga. Telinganya menangkap suara seperti langkah kaki di atap rumahnya. Saat itu dia di dalam rumah bersama Sadinem,91, ibundanya, dan Suparno, 50, adiknya. ’’Saya baru saja ndulang (menyuapi) ibu, sebelum mereka masuk,’’ ujarnya.

Kinawati yang kala itu hendak tidur, telinganya kembali menangkap suara yang mencurigakan. Kali ini, sumber suara berasal dari pintu belakang rumahnya. Dia lantas mengecek keadaan. Didapatinya kancing pintu berbahan kayu yang melintang di badan pintu agak renggang ke belakang. ’’Pintu didobrak, saya langsung jatuh ke ke belakang,’’ terangnya.

Lima pria bertopeng seketika muncul dari sebalik pintu. Satu di antara lima perampok itu lantas membekap Kinawati. Sadinem yang renta dan berbaring di dipan -tak jauh dari pintu yang didobrak perampok- tak luput disekap. Pun dengan Suparno yang tengah pulas di dalam kamarnya. ‘’Kami bertiga diikat semua, mulut dilakban,’’ ungkap Kinawati lanjut menerangkan bahwa dia dan adiknya diikat dalam satu kamar, sementara ibunya diikat tetap di atas dipan.

Kaki dan tangan ketiga penghuni rumah dan toko kelontong itu begitu kencang diikat tali rafia. Sedangkan lakban hitam menutup rapat mulut masing-masing. Mata Kinawati dengan jelas melihat lima pria bertopeng yang salah seorang di antaranya membawa semacam tombak besi berbentuk melintir berujung runcing itu. ’’Tiga orang mengikat kami, yang dua mengobrak-abrik toko,’’ tuturnya.

Dua perampok yang bertugas mencari barang berharga tersebut kiranya buntu. Tak urung, Kinawati dipaksa memberitahukan letak uang simpanannya. Dia diancam dengan besi semacam tombak itu. Takut nyawanya terancam, Kinawati akhirnya pasrah dan memberitahukan di mana tabungannya disimpan. ’’Saya digiring.  Kemudian saya tunjukkan uang hasil jualan yang saya simpan di bawah bihun,’’ ungkapnya.

Uang tunai sebesar Rp 7,5 juta akhirnya berpindah tangan secara paksa kepada perampok. Kinawati menuturkan, dia sempat bernegosiasi dengan perampok-perampok tersebut. Dia bakal memberikan apa yang diinginkan mereka asalkan tidak menyakitinya. Termasuk dua anggota keluarga lain yang ikut ditali dan dilakban. ’’Mereka sempat menghitung uang itu, lalu meminta perhiasan,’’ ujarnya.

Kinawati memerinci, dua gelang emas, satu kalung, sebuah liontin berlian, dan tiga cincin emas –salah satunya bermata akik, tak ketinggalan diembat. Berat total perhiasan sekitar 33 gram. Dia hanya bisa pasrah mengetahui perhiasan bernilai jutaan rupiah miliknya itu masuk kantong perampok. Lima pria bertopeng itu kiranya belum puas dengan uang tunai dan perhiasan. Puluhan slof rokok berbagai merek tak ketinggalan diangkut. ’’Sekitar Rp 13 juta lebih rokoknya kalau diuangkan,’’ sebutnya.

Cukup lama lima perampok itu melancarkan aksi curasnya. Kinawati menaksir, pria-pria bertopeng itu menguras habis hartanya kurun waktu satu jam. Sesaat sebelum keluar rumah, salah seorang perampok sempat mengempaskan kinawati ke lantai. Kondisi tersebut dimanfaatkan Kinawati untuk berpura-pura pingsan. ’’Biar saya tidak diapa-apakan. Biar mereka cepat pergi,’’ ujarnya.

Ketiga penghuni rumah ditinggalkan dalam keadaan tertali tangan dan kaki plus mulut dilakban. Kinawati lantas bersusah payah mencari pertolongan. Dia menuju pintu gerbang belakang dengan ngesot. Pikirannya langsung tertuju kepada ibu-ibu warga setempat yang kerap berolahraga selepas subuh. ’’Saya pukul-pukul gerbang belakang sebisanya dan minta tolong,’’ ungkapnya sembari menyebut pertolongan datang sekitar pukul 04.00,’’ terang Kinawati.

Setelah ikatan dan lakban terlepas, Kinawati lantas meminta salah seorang warga yang menolongnya itu memberi kabar ke kepala desa. Saat ditemui Radar Ngawi di kediamannya, Kinawati mengaku firasat buruk sempat dirasanya tiga hari sebelumnya. Yakni, saat ada tiga pria yang masuk ke tokonya dan menunjukkan gelagat mencurigakan. ’’Seperti mau masuk meja kasir terus,’’ terang Kinawati.

Sementara itu, lanjutnya, satu lagi pria yang juga datang bersamaan dengan tiga pria itu seolah mengamati sekeliling di luar toko. Dikatakan, empat pria mencurigakan saat itu datang ke tokonya naik mobil kelir putih. ’’Tidak sempat nyatat pelat nomornya, saya tanya tetangga sebelah saat mereka pergi katanya berpelat AD,’’ ujarnya.

Terpisah, Kapolsek Kedunggalar AKP Sukisman membenarkan kejadian pencurian dengan kekerasan di wilayah hukumnya tersebut. Kemarin pagi, pihaknya telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Pun, memeriksa sejumlah saksi. Sukisman mengatakan, kasus curas dengan lima pelaku itu masih didalami. ’’Kasus ini akan kami dalami, untuk sementara ini masih dalam proses penyelidikan,’’ ungkap Sukisman. (mg8/c1/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here