Lika-Liku Yatkun Rintis Bisnis Konveksi

130

Merintis usaha dari nol tidak semudah membalikan telapak tangan. Banyak tantangan dan rintangan yang harus dilalui. Tidak instan. Lika-liku perjuangan itu berhasil dilakoni Yatkun kala merintis bisnis konveksi dua tahun lalu. Usaha rumahan milik warga Desa Glinggang, Sampung, Ponorogo itu kini banjir orderan hingga luar negeri.

—————-

ASRI. Jalan poros Desa Glinggang, Sampung siang itu lengang. Terik matahari sedikit dibelai sejuk udara lingkungan pedesaan. Di sepanjang jalan tepian sawah itu juga disediakan tempat berteduh. Terbuat dari bambu seperti gubuk yang biasa digunakan istirahat petani. Rumah Yatkun tidak jauh dari kantor desa setempat. Berjarak kurang lebih seratusan meter. Di rumah itu tampak pekerja sibuk dengan tugas masing-masing.

Potongan kain bertumpuk di ruang tamu seukuran 4×3 meter. Di pojok ruangan terdapat almari cukup tinggi. Di dalamnya terdapat tumpukan berbagai jenis pakaian jadi yang siap diantar kepada pemesan. Di ruang sebelah, suara mesin jahit menderu dijalankan tiga pekerja cekatan. Mulai memotong, mengobras, hingga menjahit sesuai pola. Sementara Yatkun meneliti hasil pekerjaan para pekerjanya. Tidak jarang dia mengarahkan para pekerjanya. Untuk mendapatkan hasil maksimal sesuai harapan pemesan. ‘’Awalnya saya tani biasa, cuma modal cangkul,’’ kata Yatkun.

Tekad Yatkun hijrah ke ibu kota pada 1996 untuk mengubah nasib tidak sia-sia. Selama sepuluh tahun, dia bekerja di perusahaan konveksi. Masih ingat saat berangkat tidak memiliki bekal ketrampilan dalam dunia konveksi. Dia hanya petani yang biasa bekerja bermodalkan cangkul. Namun tekad dan keuletan membawanya hingga sampai di Jakarta. Terbukti keterampilan menjahit telah dia dapatkan selama dia berada di rantau. Pun dari modal keahlian itulah, dia memutuskan untuk kembali ke kampung halaman. ‘’Jakarta kota besar. Berat hidup di sana,’’ lanjutnya.

Sepulangnya dari Jakarta, sebenarnya dia masih bingung akan bekerja apa. Hingga akhirnya memutuskan untuk bekerja kembali di bidang yang sama di daerah setempat. Kurun 2006-2016 telah mengajarkannya banyak hal. Dia mengenal semua jenis model pakaian.

Dari hasil kerja itu dia perlahan mengumpulkan modal. Dua tahun sebelum resign, Yaktun mulai mencicil membeli mesin. ‘’Saya cicil, mulai mesin jahit, mesin potong, obras, dan perlengkapan lainnya,’’ ungkap pria kelahiran 1978 itu.

Setelah mesin terkumpul, dia tidak langsung keluar dari tempat kerjanya. Melainkan nyambi menerima pesanan. Produksinya di rumah sepulang kerja. Aktivitas itu bertahan hingga satu tahun lamanya. 2017, dia pun mantab keluar kerja dan mulai membuka usaha di bidang konveksi yang dirintisnya dari nol. Modalnya berkisar Rp 10 juta dari hasil tabungan yang dikumpulkan. Produk konveksi yang dia kelola memproduksi kaos, pakaian, seragam olahraga, jaket hingga kemeja. Seiring berjalannya waktu, usaha yang dirintis mulai banjir orderan. ‘’Alhamdulillah semakin lancar. Ada saja pesanan yang saya sendiri tidak menyangka,’’ sambungnya.

Hingga kini, usaha konveksi yang dirintisnya telah mempekerjakan sedikitnya tiga orang. Termasuk saudaranya sendiri yang juga ikut membantu produksi. Usaha ini sesuai dengan angannya menciptakan lapangan kerja di desanya. Kini, pesanan tidak hanya hanya datang dari daerah setempat. Melainkan dari Lampung, Bogor, Jakarta, bahkan hingga Taiwan. Untuk mencukupi pesanan, dia mengambil bahan baku hingga luar kota. ‘’Memang niatnya dulu ingin membuka lapangan kerja. Semoga semakin besar dan dapat meningkatkan ekonomi warga sekitar,’’ harapnya. *** (nur wachid/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here