Lhadala, Dua PSK Positif HIV

102

MEJAYAN – Dua dari empat pekerja seks komersial (PSK) yang dirazia di dua warung remang (warem) Kamis lalu (11/10) positif HIV. Kepastian mengidap human immunodeficiency virus itu setelah dilakukan voluntary counselling and testing (VCT). ‘’Informasi itu masuk ke kami dari laporan Puskesmas Mejayan,’’ kata Kabid Pencegahan Penyakit dan Upaya Kesehatan (P2UK) Dinas Kesehatan (Dinkes) Agung Tri Widodo, Jumat (12/10).

Dua perempuan HIV itu adalah Lam, 39, asal Kecamatan Sawahan, Nganjuk; dan Ris, 40, Kecamatan Karangtengah, Wonogiri. Sekaligus mematahkan pengakuan Lam yang bukan pekerja esek-esek. Saat dirazia Satpol PP Kabupaten Madiun, dia berkelit sekadar mampir warung setelah mengantarkan ayahnya. ‘’Tapi, infeksinya karena apa, kami belum memonitor,’’ ujarnya kepada Radar Mejayan.

Agung mengungkapkan, Lam dan Ris telanjur ikut dilimpahkan ke UPT Rehabilitasi Sosial Tunasusila di Kediri bersama dua PSK non-HIV. Langkah tersebut menyesuaikan bentuk penindakan satpol PP. ‘’Kami sebatas dimintai tolong mengecek kondisi kesehatannya,’’ tuturnya.

Namun, dinkes tetap memproses dua PSK yang terjangkit penyakit menular tersebut. Meneruskan laporan ke Dinkes Jatim dan pemkab sesuai tempat tinggal Lam dan Ris. Langkah itu sekaligus meminta dilakukan penjemputan penderita. Mengingat, mencegah penyebaran dan pengobatan menjadi urusan dinkes dan komisi penanggulangan AIDS daerah masing-masing. ‘’Kami tetap memantau secara berkala. Berkomunikasi sebulan–tiga bulan sampai dirasa bisa menangani sendiri,’’ terangnya sembari menyebut koordinasi itu berkaitan sejauh mana risiko penularannya.

Agung menyebut langkah berbeda bila temuan itu hasil mobile clinic yang dilakukan pihaknya sendiri tiga bulan sekali. Penanganan pengobatan antiretroviral (ARV) seumur hidup bakal ditanggung lembaganya. Juga, penanggulangan penyebaran dalam bentuk imbauan agar selalu menggunakan pengaman ketika berhubungan seksual. Pihaknya sengaja tidak membina lewat permintaan meninggalkan bisnis lendir itu. Karena dikhawatirkan mereka keluar dari lokasi mangkal dan membentuk titik baru di tempat lain. ‘’Kami mencegah adanya perluasan titik penularan HIV/AIDS,’’ ujarnya.

Dia menyebut ada lima wilayah yang menjadi lokasi mobile clinic. Titiknya ada di Saradan; Muneng, Pilangkenceng; Jiwan; Sambirejo; dan kawasan Bongpay tempat mangkal para waria. Sejak 2002 silam tercatat ada sekitar 650 penderita HIV/AIDS. Namun, jumlah kumulatif itu dipastikan berkurang karena penderitanya sudah meninggal dunia. ‘’Tahun lalu ada sembilan temuan dan kalau tahun ini masih nihil,’’ ungkapnya sembari menyebut mobile clinic juga menyasar tempat hiburan malam (THM) dengan temuan satu penderita asal Bandung tahun lalu. (cor/c1/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here