Lewat Bowling, Dwi Nurkariyanto Melejit di Ajang Internasional

77

Keterbatasan tidak menghalangi Dwi Nurkariyanto untuk meretas prestasi. Lewat olahraga bowling, pria 30 tahun penyandang tunanetra itu telah menjajal sejumlah kompetisi internasional.

————

GEMA tahlil sayup terdengar saat mendatangi rumah Dwi Nurkariyanto di Dusun Ketanggi Kidul, Desa Kartoharjo, Ngawi. Berjalan pelan, si empunya rumah keluar dari dalam. Dia memajukan kepala, memusatkan pandangan ke beberapa tamu yang datang.

Sejurus kemudian, Dwi hendak berjabat tangan. Uluran lengannya agak serong, tidak mengarah tepat di depan lawan jabat tangan. Bincang datang-sambut berlangsung ramah sesaat setelah si tamu meraih uluran tangan pria 30 tahun itu.

Sore itu Dwi menggelar aqiqahan putra pertamanya. Dia memanfaatkan hadiah dari pemerintah untuk menyelenggarakan aqiqahan tersebut. Semringah di wajahnya membaur dengan alunan ayat-ayat Alquran yang dilantunkan beberapa warga setempat. “Dapat hadiah setelah ikut Asian Para Games 2018,” kata penyandang tunanetra low vision ini.

Dari teras, Dwi lantas beranjak ke dalam rumah. Beberapa saat kemudian, dia keluar sambil menenteng sebuah map. Lalu, map dibukanya perlahan. Berlembar-lembar piagam dan segepok medali dikeluarkan. Jari-jari Dwi meraba medali, merasakan detail motif timbul dari piringan bundar berbahan logam dan bertali itu. “Ini waktu kejuaraan di Malaysia beberapa tahun lalu. Kalau dari Asian Para Games belum juara,” ujarnya sambil menyodorkan sebuah medali.

Dwi adalah atlet bowling. Dia kali pertamanya mengenal olahraga lempar itu di Bengawan Sport Solo lima tahun silam. Dari situ, jari dan lengan kanannya semakin akrab dengan bola besi. Semua berawal dari perkenalannya dengan sejumlah difabel lain di Jawa Tengah. “Asli saya Semarang, 2016 lalu menikah dan tinggal di sini,” terang suami Siti Nur Janah ini.

April tahun lalu Dwi masuk pelatihan nasional (pelatnas) di Bengawan Sport Solo bersama sejumlah rekan difabelnya. Dia berhasil menembus pelatnas setelah berjaya di Pekan Paralimpik Provinsi (Peparprov) Jateng. Di kelas single dan double, lemparan bola bowling dari lengannya menghasilkan poin tertinggi. Medali emas mengalung di lehernya serampung kompetisi. ‘’Awalnya sulit sekali waktu latihan,” tuturnya.

Bingung sempat menjalari Dwi saat kali pertama telapak tangannya menyentuh bola bowling. Pun, bingung semakin menjadi-jadi sesaat setelah mengangkat. Dia terkejut saat mengangkat bola besi seberat 5,5 kilogram itu.

Di bawah bimbingan pelatih, tak satu pun pin bowling ambruk pada lemparan-lemparan awal menjajal. Dia masih belum tahu teknik. Materi yang disampaikan pelatih tidak 100 persen dipahaminya. Praktik melempar yang diperagakan tidak masuk dengan sempurna ke indra penglihatannya. “Saya tetap ikut Jawa Tengah karena di Ngawi belum punya banyak kenalan,” ujarnya.

Sebagai penyandang tunanetra low vision, matanya hanya bisa menangkap objek tak lebih dari jarak dua meter. Itu pun sudah blur. Untuk detail kecil-kecil seperti tulisan koran, dia sudah tidak lagi bisa membacanya. Layar smartphone mesti di-zoom ekstrabesar agar dapat berkomunikasi. Pun, dengan menempelkan barang elektronik tersebut hingga berjarak tiga jari dari matanya. “Saya dulu sekolah di SLB. Membaca bisa, tapi kalau menulis tidak bisa,” terang Dwi.

Menghafalkan medan menjadi jurus andalannya dalam berkompetisi. Tiga langkah ke belakang dari garis batas lempar selalu diambilnya sebelum melempar. Cara itu ditemukannya sendiri saat berlatih. Tidak terkecuali dengan titik tengah lintasan bola sebelum dia ambil langkah ke belakang. Dengan begitu, deretan pin bowling bakal ambruk seketika buah hasil lemparannya. Berhasil atau tidaknya lemparan dia ketahui dari denting pin bowling yang terhantam bola besi. “Kuncinya, tangan harus lurus saat melempar,” ungkapnya.

Semangat Dwi untuk berprestasi tak pernah surut. Dia yakin bahwa di balik keterbatasan tentu ada keistimewaan. Dia enggan terlarut dengan kenangan pahit sewaktu masih lima tahun. Bangun pagi kala itu begitu mencekam. Pandangannya berkabut. Mata yang tak mampu menangkap apa-apa, kursi di kamar tidur ditubruknya.

Berbagai pengobatan dilakukan, tak banyak membuahkan hasil. Dwi sempat dirundung pilu dengan kondisi seperti itu. Namun, hidup mesti berlanjut. Dia dipertemukan dengan bowling, lantas menjelma seorang atlet andalan. “Kalau mau berusaha, pasti akan ada jalan,” ucapnya. ***(deni kurniawan/isd/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here