Mengenal Listy Endah AS, Kepala Unit Pemeliharaan Rudal Lanud Iswahjudi

319

Kehadiran Letda Tek Listy Endah Ayu Susanti mengukir sejarah di Lanud Iswahjudi. Khususnya, depo pemeliharaan 60 (depohar) satuan pemeliharaan (sathar) 65. Dia merupakan Wanita Angkatan Udara (Wara) pertama yang berhasil menduduki jabatan sebagai kepala unit pemeliharaan rudal.

———————-

BEBERAPA orang mengenakan seragam biru sedang sibuk merakit beberapa komponen yang dibutuhkan untuk rudal jenis QW-3 bertempat di R-10 missile in tube assembly. Ini adalah ruangan yang ada di satuan pemeliharaan (sathar) 65. Di antara mereka keberadaan Listy Endah Ayu Susanti cukup mencolok. Karena dialah satu-satunya perempuan di ruangan tersebut. ‘’Saya disini sebagai kepala unit pemeliharaan rudal,’’ kata Listy.

Sudah 11 bulan ini perempuan kelahiran Bandung 23 tahun silam memimpin pemeliharaan rudal. Sejak lulus dari akademi angkatan udara (AAU)  tahun 2017 silam, Listy bersama sebelas temannya adalah jebolan AAU perempuan pertama. Pun, dari ke 12 orang tersebut hanya Listy seorang yang begitu lulus dari sekolah kecabangan (Sacab) teknik ditempatkan di teknik senjata dengan jabatan sebagai kepala unit pemeliharaan rudal. ’’Reaksi saya ya kaget, karena saya dulu inginnya di teknik pesawat bukan di teknik senjata karena senang mempelajari pesawat,’’ kata Wara berpangkat Letda Tek ini.

Satu minggu sebelum keberangkatan ke Lanud Iswahjudi Madiun, Listy rajin mempelajari persenjataan terutama rudal. Pasalnya, sebelumnya dia belum pernah bersinggungan langsung dengan senjata. Dari lembaga yang dinaunginya itu ada kegiatan pembinaan prestasi untuk persiapan lomba di pekan integrasi kejuangan taruna. ’’Saya diikutkan cabang orienteering lari jauh mencari sasaran ke tempat yang belum kita kunjungi sebelumnya. Juga seringnya diikutkan lomba lari,’’ terangnya.

Bukan hanya itu, mendiang ayahnya dulu bekerja di PT Perindustrian Angkatan Darat (PINDAD) juga berkutat dengan urusan senjata. Hanya saja, kala itu Listy mengaku tidak ada rasa ingin tahu dengan senjata. ’’Jadinya respons keluarga pas tahu saya penempatan di teknik senjata, mereka (keluarga) bilang sama seperti almarhum ayah,’’ jelasnya.

Menjabat sebagai kepala, Listy membawahi puluhan anggota yang semuanya adalah laki-laki. Tidak sedikit di antara mereka adalah bapak-bapak. Kehadiran Listy di sathar 65 memberikan warna baru. Sebab, dia adalah perempuan pertama yang memegang posisi jabatan itu. ’’Saya mengistilahkanya, woman behind the missile, wanita senjata satu-satunya,’’ ungkap Listy.

Rasa bangga menyelimuti benaknya. Namun, disisi lain ada beban moril tersendiri. Lantaran menjadi yang pertama, dia merasa harus melakukan yang terbaik. Sebab, kata dia, harus bisa memberikan contoh yang baik untuk penerusnya kelak. ‘’Pastinya bangga dan saya harus membuktikan bahwa perempuan bisa nggak kalah dengan laki-laki,’’ ujarnya .

Ini terbukti ketika awal tahun  2019  lalu Listy dipercaya menjadi pemimpin dalam misi Banharlap Maverick. Yakni, bantuan pemeliharaan rudal maverick dari Lanud Iswahjudi ke Lanud Roesmin Nrujadin, Pekanbaru. Listy bersama dua anggota itu terbang jauh membawa delapan rudal. ’’Yang setiap rudal itu beratnya 300 kilogram. Ini untuk dukungan latihan maverick skadron udara 16 dan skadron udara 12,’’ bebernya.

Benar saja, begitu menginjakkan kaki disana tak sedikit yang heran. Dan merasa penasaran dengannya. Bukan perkara mudah menjalankan misi tersebut. Sebelum berangkat, Listy dan anggota memastikan semua rudal tersebut berfungsi dengan baik saat digunakan oleh satuan anggota dua skadron tersebut. ’’Mendapatkan amanah dan dipercaya berarti membuktikan bahwa saya bisa, perempuan bisa,’’  ucapnya.

Berkutat sehari-hari dia area yang berbahaya membuatnya sudah terbiasa dengan lingkungan sehari-hari. Prinsipnya, bisa membatasi dan tidak memaksakan kemampuan. Semisal, tidak mengangkut beban berat. ‘’Sudah biasa mendorong rudal yang  beratnya puluhan kilo itu kalau nggak ada orang, saya nggak bisa memaksa mendorong berdua atau bertiga. Menjaga efeknya buat kedepan,’’ ujarnya.

Kini, tantangan terberatnya adalah adaya teknologi rudal terbaru dan canggih. Dituntut harus belajar memahami secara menyeluruh dan mendala produk tersebut. Sebab, rudal bukanlah barang murah yang gampang dibeli. Itu adalah barang mahal dan berisiko tinggi. ’’Harus hati-hati betul dalam pemeliharaan dan  penggunaannya. Jadi, untuk menghancurkan lawan tidak harus dari jarak dekat,  dengan jarak jauh dan itu membutuhkan alat yang canggih bisa dikendalikan dari jauh, cepat dan tepat,’’ tegasnya. ’’Saya banyak belajar dari anggota-anggota yang ada disini,’’ imbuh Listy.

Komandan Sathar 65 Letkol Tek Arie Santoso mengaku bangga pucuk pimpinan memeprcayakan salah seorang wara di kesatuannya. Dia menganggap hadirnya Listy sebagai sebuah penghargaan. Pun, dia memperlakukan sama dengan perwira lainnya dalam mengarahkan anggotanya dengan baik. ‘’Sama saja, yang istimewa cuman kamar mandinya,’’ selorohnya. (*/dil/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here