Magetan

Lereng Blego-Bungkuk Membara

Api Sulit Dijinakkan karena Medan Sulit

MAGETAN, Radar Magetan – Titik api terdeteksi muncul di Gunung Blego, Dukuh Wonomulyo, Desa Genilangit, Poncol, pada Minggu lalu (17/11). Kendati demikian, kobaran api di kawasan hutan milik Perhutani itu terpantau masih jauh dari permukiman penduduk. ‘’Kami sudah menerjunkan tim untuk melakukan penanganan yang ada di Wonomulyo,’’ kata Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Magetan Fery Yoga Saputra Senin (18/11).

Sampai kemarin sore, api belum dapat dijinakkan karena kondisi angin yang cukup kencang. Sebaliknya, kebakaran justru makin meluas. Pihak BPBD menyatakan belum bisa memperkirakan berapa luasan hutan yang terbakar. Untuk sementara waktu, mereka juga melarang warga beraktivitas di lereng Gunung Blego. ‘’Titik api dekat dengan (kawasan) hutan produksi,’’ sebut Fery.

Belum diketahui pasti pemicu kebakaran hutan di Gunung Blego, Kecamatan Parang. Saat ini prosesnya masih ditangani oleh polisi. Di tempat terpisah, kebakaran juga melanda kawasan hutan di Gunung Bungkuk. Hingga kemarin petang, asap putih terpantau mengepul dari kawasan hutan rakyat itu.

Proses pemadaman oleh petugas gabungan dengan dibantu warga belum membuahkan hasil karena sulitnya medan dan cuaca yang tidak mendukung. Meski begitu, kebakaran tidak sampai merembet ke permukiman warga. ‘’Karena belum mendekati permukiman warga, jadi masih kami pantau saja,’’ terang Fery.

Fery mengungkapkan, kebakaran di lereng Gunung Bungkuk itu bukan kali pertama terjadi. Sebelumnya, kasus tersebut sudah berulang terjadi. Penyebabnya ulah warga yang membakar daun kering sembarangan di area hutan itu. Padahal, sebelumnya aktivitas tersebut sudah dilarang oleh petugas. ‘’Perlu ada pembinaan terhadap pemilik lahan oleh pihak kepolisian terkait pembakaran hutan. Supaya ada efek jera,’’ ucapnya. (fat/c1/her)

98 Kasus Kebakaran, Siagakan Dua PMK

KEBAKARAN besar yang sempat melanda kawasan hutan Gunung Lawu terus diantisipasi. Dua unit mobil pemadam kebakaran (damkar) dikerahkan di UPT PMK. Kebijakan itu sebagai bentuk upaya mitigasi apabila kebakaran hutan di lereng Gunung Lawu tersebut meluas sampai permukiman penduduk. Terutama di Desa Tapak, Kecamatan Panekan. ‘’Kami sudah koordinasi dengan kades Tapak. Sewaktu-waktu api mendekat, kami siap,’’ kata Kasatpol PP dan Damkar Magetan Chanif Tri Wahyudi Senin (18/11).

Saat kawasan hutan Gunung Lawu lalu terbakar, mobilitas mobil damkar yang pihaknya miliki terkendala medan. Dengan menggunakan mobil damkar berkapasitas 6 ribu liter air, hanya beberapa titik tertentu yang bisa dijangkau. ‘’Muatannya kan berat, kalau medan terlalu menanjak, tidak bisa,’’ ujarnya.

Kendati begitu, antisipasi pemadaman kebakaran hutan ditunjang dengan peralatan mencukupi. Seperti noozle fire hose yang mempunyai jarak semprot sejauh 500 meter. ‘’Kami tidak perlu mendekat saat proses pemadaman kebakaran. Sehingga, menyesuaikan medan,’’ terang Chanif.

Pihaknya juga telah meminta sejumlah anggota untuk melakukan survei kasus kebakaran. Hasilnya, kebakaran hutan di Gunung Lawu pada 2017 lalu menjadi kasus yang paling besar ditangani. Karena titik api mendekati permukiman penduduk dan jalan raya. ‘’Semoga kebakaran tahun ini tidak seperti dua tahun lalu,’’ harapnya.

Sepanjang tahun ini, pihaknya mencatat telah terjadi 98 kasus kebakaran dengan satu korban meninggal dunia dan seorang lainnya mengalami luka bakar. Sedangkan, nilai kerugian mencapai ratusan juta rupiah. ‘’Banyak penyebab kebakaran, kami terus sosialisasikan kepada masyarakat. Terutama daerah-daerah rawan terjadi kebakaran,’’ tutur Chanif. (bel/c1/her)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close