AdvertorialMadiun

Ledakan Penderita DBD Belum Tergolong KLB

MADIUN – Penyebaran penyakit demam berdarah terus ditekan. Salah satunya lewat kampanye gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) secara masal di seluruh kelurahan yang dilakukan oleh Pemkot Madiun.

Berdasarkan data dinas kesehatan dan keluarga berencana (dinkes-KB) setempat, terhitung mulai Januari–Mei 2019 jumlah penderita akibat gigitan nyamuk Aedes Aegypti itu ada 211 orang. Kendati demikian, pemkot tidak sampai menyatakan hal tersebut sebagai kejadian luar biasa (KLB).

Namun, dari hasil penyelidikan epidemiologi (PE) dinyatakan sebanyak 27 kelurahan di Kota Madiun sebagai daerah endemis DBD. ’’Perlu adanya antisipasi atau pencegahan agar penyebaran DBD tidak semakin meluas,’’ kata Wali Kota Madiun Maidi.

Pada Sabtu (18/5) lalu, Maidi bersama dengan wakil wali kota Inda Raya Ayu Miko Saputri beserta ketua tim penggerak PKK Yuni Sulistyowati dan kadinkes-KB, dr AS Wardani memimpin langsung fogging di Jalan Wiyata Jaya, Klegen, Kartoharjo. Pengasapan itu dilakukan sebagai tindaklanjut hasil PE terhadap 20 rumah penderita DBD di sekitar wilayah tersebut.

Maidi mengungkapkan sepanjang tahun ini dinkes sudah melakukan pengasapan sebanyak 55 kali di sejumlah titik. Termasuk sebelumnya di Jalan Bali dan terbaru di Jalan Wiyata Jaya. ’’Kalau masyarakat minta (lingkungan) di fogging, oke kami fogging. Tapi, setelah itu lingkungan harus dijaga. Harapan kami ada gerakan kerja bakti bersama,’’ tutur pejabat asal Magetan tersebut.

Sebab, menurut Maidi, efek dari pengasapan itu membuat nyamuk Aedes Aegypti sebagai vektor penyakit DBD semakin resisten. Sehingga, membuat sebagian kelurahan menjadi wilayah endemis DBD. ‘’Efek dari fogging itu jentik jadi kebal dan kalau sudah jadi nyamuk dewasa itu tidak pandang bulu. Semua orang bisa terkena dampaknya,’’ terang mantan Sekda Kota Madiun itu.

Dia menambahkan saat ini sedang ada penyelidikan oleh pihak RSUD Kota Madiun dan dinkes-KB melalui kader jumantik di setiap kelurahan untuk mengetahui asal perkembangbiakan jentik nyamuk. ‘’Dengan begitu, diharapkan penderita DBD di rumah sakit bisa berkurang,’’ ujar Maidi.

Sementara itu, Kepala Dinkes dan KB Kota Madiun dr. AS Wardani mengungkapkan, sepanjang tahun ini sudah ada 211 penderita DBD. Menindaklanjuti kasus itu pihaknya sudah melakukan penyelidikan epidemiologi. Hasilnya, terdapat jentik dan penderita sehingga harus dilakukan fogging di wilayah tertentu.

Menurutnya, kebijakan itu sudah sesuai dengan Permenkes 581/1992. ’’Tapi, harus di survei dulu. Kalau memang lingkungan itu bersih kenapa harus di fogging, karena ini insektisida. Tidak boleh sembarangan soalnya akan merusak ekosistem,’’ terangnya.

Pihaknya tak menampik seluruh kelurahan di Kota Madiun masuk wilayah endemis DBD. Sehingga perlu dilakukan gerakan PSN. Seperti masih didapatinya botol-botol plastik yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.

Menyikapi hal tersebut, pihaknya berharap kepada kader PKK untuk dapat membantu mengurangi sampah plastik. ‘’Kantong plastik yang terisi air sedikit pun saat hujan itu bisa jadi perindukan nyamuk. Mungkin di dalam rumah sudah bersih, tapi di lingkungan belum? Ini yang potensi menjadi sumber perkembangbiakan nyamuk Aedes Aegypti,’’ jelasnya. (her/adv/ota)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close