Lebih Dekat dengan Sidiq, Penjaga Monumen Panglima Sudirman

390
PENJAGA SEJARAH: Selain menjaga Monumen Panglima Sudirman, Sidiq juga kaya wawasan tentang sosok pahlawan nasional itu.

Suka duka dirasakan Sidiq selama 11 tahun menjaga Monumen Jenderal Sudirman. Pria 52 tahun itu pun memilih bertahan kala banyak rekannya memutuskan berhenti. Semua atas nama kepedulian.

———- 

DENI KURNIAWAN, Pacitan, Jawa Pos Radar Pacitan

GERILYA Jenderal Sudirman selama di Pacitan fasih diceritakan Sidiq. Terutama kisah pembangunan monumen pahlawan nasional kelahiran Purbalingga, 24 Januari 1916, itu di Desa Pakis Baru, Nawangan. ‘’Untuk mengenang jasa kepahlawanannya karena desa ini paling lama dijadikan markas,’’ kata penjaga Monumen Panglima Sudirman itu.

Monumen Jenderal Sudirman berbahan perunggu dibangun 1981 silam. Pengelolanya berganti tiga kali. Mulai TNI, pemerintah pusat, dan Pemkab Pacitan. Dalam perjalanannya, rehabilitasi beberapa kali dilakukan. Namun, warga Dusun Menur desa setempat itu tetap dipercaya menjadi penjaga sejak 2008. Penunjukannya kala itu karena sering menemani anggota TNI jaga malam. ‘’Tahu banyak kisah Jenderal Sudirman dari cerita sesepuh desa,’’ ujar pria 52 tahun tersebut.

Sidiq menikmati pekerjaannya sebagai penjaga monumen. Dia memilih bertahan sebagai bentuk kepedulian. Ketika banyak rekannya memutuskan berhenti. Sebetulnya, ada empat penjaga lain. Namun, mereka tidak punya wawasan tentang Jenderal Sudirman. Suami Tumirah itu mengambil peran sebagai juru bicara ketika ada pengunjung yang ingin belajar sejarah. ‘’Banyak suka dukanya,’’ katanya seraya menyebut monumen dijadikan tempat mabuk-mabukan sebelum rehab 11 tahun silam.

Kepedulian Sidiq diikuti dengan pengorbanan. Rela tidak menerima upah selama lima bulan ketika proses peralihan pengelolaan dari pusat ke pemkab. Kebutuhan keluarga dicukupi dari hasil memelihara sapi dan kambing. ‘’Upah diberikan setelah peralihan beres,’’ kenangnya.

Pengalaman lainnya ketika motor salah seorang pengunjung hilang. Kesalahan bukan pada pengelola karena kendaraan itu tidak diparkir di tempat yang disediakan. Apalagi, pengendaranya yang seorang muda-mudi masuk melewati pos penjagaan tanpa permisi. ‘’Kalau persoalan saat ini sampah menumpuk. Karena memang tempat sampahnya sedikit,’’ ungkapnya. ***(cor/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here