Magetan

Lebih Dekat dengan Kasatlantas Polres Magetan AKP Ega Prayudi, Putra Tukul Arwana

Satlantas Polres Magetan resmi berganti nakhoda mulai 1 Agustus lalu. Tugas baru diemban AKP Ega Prayudi sebagai kasatlantas. Bagaimana kiat lulusan Sekolah Inspektur Polisi Sumber Sarjana (SIP SS) tahun 2011 itu untuk mengatasi problem lalu lintas di Magetan yang kian padat?

————–

CHOIRUN NAFIA, Magetan, Jawa Pos Radar Magetan

EGA sedang serius mempelajari tumpukan berkas di ruang kerjanya pagi itu. Berkas-berkas tersebut berkaitan dengan tugas barunya sebagai kasatlantas di Polres Magetan. Tujuannya melakukan pemetaan agar bisa mengambil kebijakan yang tepat.

Sebelum berdinas di Magetan, putra dari komedian Tukul Arwana itu bertugas di Ditlantas Polda Jatim sebagai kaur TU subbag renmin. Namun, pria kelahiran 22 Juni 1987 itu sejatinya sudah kenyang pengalaman di bidang tugas satlantas.

Diawali dengan menjadi kanit laka Satlantas Polres Malang Kota. Sebelum kemudian dimutasi menjadi kanit dikyasa dan setelah itu sebagai KBO lantas Polres Malang Kota. Karir Ega terus melesat setelah dipindahtugaskan ke Trenggalek.

Saat itu, dia diposisikan menjadi kanit regident Satlantas Polres Trenggalek. Serta pernah menjabat sebagai kasatlantas Polres Probolinggo. Hingga akhirnya ditugaskan menjadi kasatlantas Polres Magetan.

Kendati begitu, Ega mengaku dirinya tidak pernah terpikir untuk menjadi seorang polisi. Karena pada awalnya dia lebih menyukai dunia jurnalistik. Baik itu media cetak maupun media elektronik. ‘’Jadi polisi itu awalnya untuk membuat bangga dan menyenangkan ibu,’’ kata lulusan sarjana Fakultas Ilmu Komunikasi di Universitas dr Moestopo Jakarta itu.

Namun, Susiana, ibunya, terus memberikan motivasi agar dia bisa masuk Korps Bhayangkara. Semuanya berawal saat dia diajak mendiang ibunya ke rumah seorang teman. Susiana bangga melihat anak temannya tersebut lulus dari akademi kepolisian (akpol). ‘’Setelah itu saya langsung mendaftar ke SIP SS dan lulus tahun 2011,’’ terang suami Iriana Prahasti itu.

Kini, setelah hampir satu dekade menjadi anggota polisi, banyak pengalaman yang diperoleh Ega. Termasuk saat pengambilan kebijakan. Dia menyebut, karakteristik wilayah sangat berpengaruh terhadap kebijakan.

Di Probolinggo, misalnya, jumlah kendaraan tidak seperti di Magetan. Banyak kendaraan berat yang beroperasi di jalan pantura. Kondisi itu sering memicu kecelakaan.

Untuk menekan angka laka lantas, Ega menerapkan cara lain daripada yang lain. Dia bekerja sama dengan beberapa mahasiswa jurusan psikologi. Dari sana dia mendapatkan hasil bahwa kecelakaan di Probolinggo yang didominasi kendaraan berat itu disebabkan pengemudinya sering kelelahan.

Sebagai bentuk pemecahan masalah itu, dia beberapa kali mengajak sopir truk untuk cangkruk bareng saat melakukan razia di jalan. Tujuannya untuk melepas kantuk. ‘’Karena salah satu penyebab kecelakaan itu rupanya karena kelelahan, sopirnya ngantuk,’’ ungkapnya.

Nah, saat ini dia sedang melakukan pemetaan kondisi lalu lintas di Magetan. Apakah pola semacam itu bisa diterapkan di Bumi Ki Mageti. Karena, menurut dia, Magetan tentunya juga memiliki karakter yang berbeda dengan wilayah lain.

Namun, yang pasti, Ega siap melanjutkan program sebelumnya. Di antaranya, Save Our Student (SOS) untuk menekan ruang gerak pelajar bermotor. Dia juga tengah menyiapkan konsep untuk menekan kasus lalu lintas dengan cara memberikan testimoni lewat video.

Ega mengaku konsep itu pernah beberapa kali diterapkan dengan berkolaborasi bersama Tukul, ayahnya. Di mana sutradara dan narasi pesan imbauan tertib berlalu lintas semuanya dia yang membuat. ‘’Kecelakaan itu tidak bisa dihilangkan. Tapi, paling tidak ditekan fatalitasnya,’’ pungkasnya. ***(her/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close