Madiun

Lebih Dekat dengan Cakra Muda, Grup Kesenian Belia Pelestari Dongkrek

MADIUN – Cakra Muda beranggotakan anak-anak muda. Meski begitu, semangat melestarikan Dongkrek, kesenian khas Kabupaten Madiun sangat tinggi. Juga kompak ketika memutuskan utang satu set peralatan pertunjukan.

Tujuh pemeran dalam satu panggung kecil. Empat di antaranya mengenakan kostum genderuwo warna merah, hijau, kuning, dan hitam, seirama meloncat dengan tangan terangkat. Mereka mengelilingi dua perempuan bertopeng wajah bersih dan bermulut perot bergestur ketakutan. Selang beberapa menit, muncul pemain terakhir adalah eyang palang dengan kostum topeng kakek dan berpakaian surjan. ‘’Komposisi itu sebagai khasnya tari dongkrek,’’ kata Ulil Absor.

Ulil adalah pemimpin grup kesenian dongkrek bernama Cakra Muda. Beranggotakan 22 pemuda-pemudi karang taruna Desa Brumbun, Wungu, Kabupaten Madiun. Terdiri dari 12 pemain gamelan, tujuh penari utama, dua penyanyi, dan seorang penari tambahan. Kelompok tersebut dibentuk 5 November 2018. Meski baru berusia enam bulan, mereka sudah luwes melakukan olah gerak tubuh dan bermain musik karena sudah menekuni Tari Reyog sebelumnya. ‘’Kami konsen ke dongkrek karena merasa memiliki seni pertunjukan asli Kabupaten Madiun,’’ ujar pria 30 tahun tersebut.

Jam terbang Cakra Muda terbilang minim dengan lingkup undangan lokalan. Seperti event Festival Rendengan di Pule, Sawahan, dan festival panen padi di Desa Brumbun, Wungu, beberapa waktu lalu. Kali terakhir, membuka acara Festival Aksara Jawa Lontar di Desa Gunungsari, Madiun, 19 April lalu. Juga beberapa kali undangan pemerintahan desa (pemdes). Kelompok ini terus belajar dan berkembang meski anggotanya ada yang masih berusia enam tahun. ‘’Latihan dilakukan sekali dalam seminggu setiap malam Kamis,’’ ucapnya.

Perjuangan Cakra Muda mempelajari dongkrek tidak mudah. Di awal-awal terbentuk, nyaris seluruh anggota grup buta dengan dongkrek. Tidak hanya gerakan, alunan musik, tapi juga esensi kesenian tersebut. Namun, berkat keinginan belajar dan arahan penggiat dongkrek dari Balerejo, permasalahan itu terurai. ‘’Yang memudahkan adalah sudah ada yang bisa menabuh gamelan. Jadi tinggal menyesuaikan dengan khasnya dongkrek,’’ papar pria yang berposisi penabuh bedug dalam grup.

Pemdes setempat dipandang peduli dengan seni budaya. Cakra Muda diberi dana pembinaan Rp 5 juta. Duit itu lantas digunakan sebagai uang muka membeli satu set peralatan dongkrek berupa kostum dan alat musik sebesar Rp 15 juta. Pelunasan kekurangannya ditanggung oleh kelompok dengan cara mengangsur. Uang membayar utang hasil menyisihkan upah tampil dalam pentas. ‘’Punya utang tidak masalah asal bisa melestarikan seni budaya daerah,’’ ucapnya. ***(cor)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close