Laras Dwi Novika Siwi Enjoy Jadi Penari Jathil

63

Penari sudah dipilih Laras Dwi Novika Siwi sebagai jalan hidupnya. Omongan tak sedap kerap masuk ke telinganya. Mantap hati berkecimpung di dunia seni, dia tetap berlenggak-lenggok bersama bujang ganong dan pembarong.

DARI muka halaman, sayup terdengar bunyi gamelan dari arah Laras Dwi Novika Siwi yang sedang bersantai di kursi kayu. Bunyi khas terompet di pergelaran reyog menjadi yang dominan masuk telinga. Sejurus kemudian, musik berhenti.

Telunjuk kanan Laras tampak lincah mengusap-usap layar smartphone. ‘’Lihat-lihat video pas main tadi. Kalau foto ini sudah agak lama,’’ kata Laras sembari menunjukkan fotonya berkostum jathil lengkap.

Laras merupakan satu dari sekian anak muda yang masih sudi menekuni kesenian tradisional. Menahun sudah dia berprofesi sebagai penari jathil. Berlenggak-lenggok sambil melempar sampur tari sudah menjadi kesehariannya.

Pun dia kelewat akrab dengan pembarong, bujang ganong, maupun penabuh gamelan pengiring reyog. ‘’Sejak TK sudah suka dengan tari-tarian. Mungkin karena sering lihat ibu menari,’’ ujar gadis 19 tahun tersebut.

Berbagai jenis tari dipelajari Laras sedari kecil. Mulai tradisional sampai tari modern alias dance. Lengannya sudah biasa dengan gerak gemulai maupun yang berjingkrak-jingkrak.

Laras kecil pernah tergabung dengan grup tari kreasi di sekolahnya. Beranjak remaja, dia menjajal dance. ‘’Pas nge-dance di sebuah acara di taman kota Caruban, sempat grogi juga waktu itu,’’ ujar warga Desa Sembung, Kecamatan Karangjati, Ngawi, ini.

Terbiasa dengan gerak berirama membuat Laras cepat beradaptasi ketika mempelajari jathil. Atmosfer dan lingkungan tari yang tak lepas dari kesehariannya mengantar Laras dipertemukan dengan seni-tradisi asli Ponorogo itu. Tarian berkostum lanangan itu dipelajarinya dengan cepat. Gerakan demi gerakan dasar berhasil Laras kuasai. ‘’Kalau saya, yang penting itu harus paham lebih dulu alurnya,’’ ujar Laras.

Di awal menekuni jathil, Laras sempat berkecil hati. Dia down lantaran anggapan miring tentang profesi seorang penari jathil dari beberapa orang. Berkali ulang telinganya merah karena mendengar beraneka cibiran yang tertuju kepadanya. Kendati demikian, semangat berlatih Laras tak kendur. Gerakan seperti pasang kuda-kuda dan membentangkan lengan –satu ke atas, satu lagi ke bawah– dengan gemulai tetap dilakukannya. ‘’Intinya kayak diremehin. Buat apa dan dapat apa dari menari itu,’’ ujarnya.

Berbagai cibiran masuk ke telinga lantas menjalari hati Laras. Kendati begitu, putri pasangan Partini dan Sunardi ini tetap berkesenian. Dia bermantap hati menjadi salah satu generasi yang melestarikan seni tradisional. Sekarang, dia terbiasa diundang pentas. ‘’Ya capek dan panas juga pas tampil, tapi harus tetap tersenyum di depan orang banyak,’’ ucapnya.

Berlenggak-lenggok bersama personel reyog memberi buah manis lain bagi Laras. Dari satu pentas ke pentas yang lain, dia tidak melulu berkolaborasi dengan satu paguyuban reyog. Pun, sejumlah penari jathil yang biasanya lebih dari satu dalam setiap pergelaran. Dari situ, banyak pengalaman yang didapat Laras. ‘’Jadi banyak teman juga,’’ senangnnya.

Meniti karier sebagai seroang penari jathil menjadi sesuatu yang telah dia putuskan. Lantaran itu, bencana banjir yang belakangan melanda sejumlah wilayah di Bumi Orek-orek disikapinya dengan tarian pula. Bersama rekan-rekannya, Laras melakukan penggalangan dana untuk korban banjir dengan menari jathil. ‘’Keseleo sedikit waktu itu, habis jatuh dari motor juga sebelumnya. Sudah tidak apa-apa ini,’’ ujarnya. ***(isd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here