BNNP Jatim Kesulitan Ungkap Jaringan Napi Narkoba

54

MADIUN – Upaya BNNP Jatim memerangi pengendalian peredaran narkoba dari balik tembok Lapas Klas I Madiun menuai kendala. Mereka sulit mengakses masuk  seketika ke lembaga permasyarakatan tersebut karena terbentur standar operasional prosedur (SOP). ‘’Kami nggak bisa masuk. Jadi, penanganan seketika seperti di Medaeng maupun di Porong belum bisa kami lakukan (di Lapas Madiun),’’ terang Kabid Pemberantasan Narkotika BNNP Jatim, AKBP Wisnu Chandra Minggu (28/4).

Langkah lain coba ditempuh oleh BNNP Jatim untuk menembus tembok tebal Lapas Klas I Madiun. Salah satunya dengan mengajukan usulan pemeriksaan ke Kanwil Kemenkumham Jatim. ‘’Tapi, lebih dulu kami akan lakukan pembuktian dulu adanya keterlibatan napi di lapas tersebut. Baru nanti kami akan paksakan masuk untuk masuk ke dalam,’’ kata Wisnu saat dihubungi Radar Madiun.

Berdasar data yang diperoleh BNNP Jatim, kasus peredaran narkoba yang sering mereka ungkap erat kaitannya dengan jaringan napi dari dalam Lapas Madiun. Misalnya, seperti penangkapan bandar narkoba di area Gate KM 711 jalur B jalan tol Jombang-Mojokerto pada 31 Maret lalu. Diduga aktivitas penjualan narkoba oleh pelaku itu dikendalikan oleh jaringan napi di Lapas Madiun.

Untuk itu, pihaknya coba melakukan pembuktian seakurat mungkin dari hasil tangkapan yang telah dilakukan. Meskipun bukti narkoba yang diamankan oleh pihaknya tegolong kecil. ‘’Kami terus berupaya untuk memutus rantai peredaran narkoba yang dikendalikan dari dalam Lapas Madiun. Walaupun itu merupakan perkara kecil, kami coba hantam langsung ke jaringan pengendalinya,’’ jelas Wisnu.

Dari hasil penyelidikan sementara, Wisnu menduga terdapat beberapa oknum napi di Lapas Madiun yang mengendalikan peredaran narkoba dari dalam sel. Tercatat ada lima jaringan yang mengoperasikan peredaran narkoba ke seluruh Jatim dan Bali. ‘’Modus pengendaliannya melalui percakapan via media sosial (medsos) dan telepon,’’ katanya.

Dari dugaan jaringan napi yang beroperasi di balik tembok Lapas Madiun itu, lanjut Wisnu, peredaran uang penjualan narkoba bisa mencapai ratusan juta rupiah. Bahkan, saat penangkapan terakhir di Kota Madiun pada Jumat (26/4) lalu dari hasil kalibrasi barang bukti sabu-sabu, ekstasi dan ganja yang diamankan mencapai Rp 90 juta. ‘’Tapi, kami akan coba buktikan di perkara tindak pidana pencucian uang (TPPU),’’ ungkapnya.

Seperti diketahui, sekitar tiga hari lalu, petugas dari BNNP Jatim berhasil menangkap dua orang pengedar narkoba dengan wilayah operasi Madiun yang dikendalikan jaringan napi Lapas Klas I Madiun. Kedua pelaku yang ditangkap adalah Fajar Budianto dan Ariyanti, kekasihnya.

Dari tangan keduanya, petugas BNN Provinsi Jatim berhasil mengamankan barang bukti berupa 65 gram sabu-sabu (SS), 80 butir ekstasi, dan 510,98 gram ganja. Fajar diduga menjadi kaki tangan napi dari Lapas Klas I Madiun dalam mengedarkan narkoba dengan menggunakan teknik ranjau dalam jumlah yang cukup signifikan. Rata-rata 100 kali per pekan. (her/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here