Langganan Podium Juara, Hidup Hambar tanpa Bersepeda

131

Juwanto Reza meraih predikat Raja Tanjakan atau King of Mountain (KOM) di event Karismatik Cycling Community (KCC). Catatan waktunya 33 menit 4 detik. Cyclist Bike HAUS Cannondale itu berhasil menyisihkan lawan-lawan bebuyutanya di kategori road bike open upper 40, seperti Gunawan Basso (Happy Monday), Dwi Ratsongko, Tarmin, dan Rudy Rustanto (Ratjoen).

DUA tangan Juwanto Reza mengepal saat memasuki garis finis di kawasan Telaga Sarangan. Senyumnya mengembang. Peluh keringat masih mengucur di wajahnya. Tak langsung menuju area finis, Juwanto memilih mengayuh pedal sepedanya menuju kawasan telaga. ’’Foto-foto di telaga dulu, setelah itu ke lokasi penyerahan hadiah,’’ ujar Juwanto kepada Jawa Pos Radar Madiun.

Juwanto memang sangat dikenal di kalangan pehobi sepeda. Nyaris semua memberikan ucapan selamat kepada warga Senangguwo Selatan, Semarang itu. Pria kelahiran Blora 41 tahun silam itu selalu mengikuti berbagai event sepeda di Indonesia. Bahkan, dia tak pernah absen ketika Jawa Pos Radar Madiun menggelar event bersepeda. ’’Konsep dan pelaksanaan event bersepeda Jawa Pos Radar Madiun itu bagus, rapi, dan hadiahnya lumayan,’’ jelas pria yang juga meraih predikat KOM Srambang Challenge 2018.

Dia mengaku getol mengikuti event sejak tiga tahun terakhir. Bahkan, Juwanto menghitung nyaris setiap bulan ikut. Malah dalam sebulan bisa dua kali. Seperti bulan ini, setelah ikut di Karismatik Cycling Community langsung terjun di event Bromo Challenge, pada 16 Maret mendatang. ’’Kalau luar Jawa, sering ikut di Bali, Lombok, Jayapura, Manado dan Samosir,’’ ujarnya.

Belum lama ini, persisnya 24 Februari lalu, Juwanto mengikuti event GFNY Bali. Event itu diikuti cyclist dari perwakilan lebih dari 15 negara. Hasil perjuangannya, Juwanto meraih podium ketiga overall. Tentu, ini menambah daftar gelar yang sudah pernah diraih. ’’Rata-rata dari setiap event itu bisa podium, tapi saya bukan atlet, hanya pehobi,’’ ujarnya.

Saking sukanya bersepeda dan ikut event, Juwanto malah menyebut dirinya maniak sepeda. Bersepeda ibarat kebutuhan wajibnya. Seolah, hidupnya terasa hambar jika tanpa bersepeda. ‘’Maniak itu buat saya, orang yang tidak bisa tinggalkan hobinya. Pertama kebutuhan kedua sehat,’’ bebernya.

Sebelum terlibat aktif di beragam kompetisi sepeda,  Juwanto  hanya pehobi biasa. Dia hanya rutin gowes. Hingga akhirnya ada salah seorang rekan cyclist mengajak Juwanto. ’’Ya pertama kali grogi,’’ ujarnya.

Lambat laun, suami dari Enny Rochmawati merasa percaya diri. Juwanto malah keranjingan balapan sepeda. Juwanto menemukan keasyikan tersendiri kala mengikuti event sepeda. ’’Dapat teman baru, dan kekeluargaannya ini yang membuat saya kangen mengikuti event,’’ ujarnya.

Semula, niatan Juwanto mengikuti kompetisi bertujuan untuk mengukur kemampuan. Sejauh mana kecepatan dan kekuatannya bersepeda. Sekarang, setelah rutin mengikuti event dia menemukan formula latihan yang pas sebelum terjun di balap sepeda. ’’Kalau dulu waktu ikut event pertama hanya sekadar ikut. Belum mengenal pola latihan yang baik seperti apa,’’ ucapnya.

Kunci suksesnya bisa meraih juara adalah latihan. Lanjutnya, menjaga pola makan dan istirahat yang cukup. Sebelum kompetisi,  Juwanto menghindari makan-makanan pedas dan berminyak dan minuman dingin. Dia meyakini, ini akan mengurangi performa ketika bersepeda. ’’Makan pedas lalu perutnya panas, malah bikin nggak nyaman, dan istirahat harus cukup,’’ ujarnya.

Hal yang tak kalah penting adalah satu minggu sebelum kompetisi  sepeda dalam kondisi siap. Artinya, sepeda sudah di-setting  dengan benar agar aman selama mengikuti kompetisi. ‘’Setelah itu dicoba dua atau tiga kali kalau sudah enak, udah nggak saya ubah lagi settingannya. Yang penting nggak dadakan,’’ terangnya. ****(ota/bersambung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here