Lahan Nonproduktif Bebas Ditanami Modal

24

MAGETAN – Berbagai cara dilakukan oleh Pemkab Magetan untuk menjaring investor. Salah satunya dengan memberikan kelonggaran pemanfaatan lahan pertanian non-produktif seluas 14 ribu hektare yang terpecah di sejumlah wilayah. ‘’Kami sarankan investor ke wilayah yang kurang produktif,’’ kata Bupati Magetan Suprawoto kemarin (2/4).

Menurutnya, cara itu dianggap solutif. Karena tidak harus mengurangi luas lahan pangan pertanian berkelanjutan (LP2B) yang sudah diatur dalam rencana tata ruang wilayah (RTRW). Adapun lahan non-produktif itu dapat dijumpai di Parang dan Lembeyan. ‘’Setiap investasi yang masuk dan memerlukan tanah kami arahkan untuk memanfaatkan lahan yang memang bukan peruntukannya untuk LP2B,’’ ujar bupati yang akrab disapa Kang Woto itu.

Dia tak menampik sampai saat ini belum ada investor skala besar yang tertarik berinvestasi di Magetan. Tapi, untuk investasi sektor industri kecil dan sedang banyak. Misalnya, sektor usaha garmen yang sudah berdiri di Barat dan Sukomoro. ‘’Lahan itu memang bisa alih fungsi,’’ kata mantan sekjen kementerian kominfo itu.

Kang Woto mengungkapkan Magetan sangat cocok dengan iklim investasi konveksi dan agrokomplek. Misalnya, investasi pertanian, peternakan, perikanan, perkebunan, dan kehutanan. Kondisi itu dipengaruhi dengan geografis wilayah yang berupa pegunungan. ‘’Bahkan itu bisa dimanfaatkan juga untuk mengembangkan industri pariwisata,’’ ungkapnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, Perkebunan, dan Ketahanan Pangan (DTPHPKP) Magetan Eddy Suseno mengatakan, dari luas secara keseluruhan lahan pertanian mencapai 33 ribu hektare, yang termasuk kategori LP2B seluas 19 ribu hektare. Untuk melindungi alih fungsi lahan tersebut, pemkab sudah menyusun regulasinya. (bel/her)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here