Laga MPFC vs Persinga tanpa Suporter Tim Tamu

155

MADIUN – Bentrok antara suporter Madiun Putra FC (MPFC) dan Persinga Ngawi yang terjadi musim lalu sudah dilupakan Ketua Harian MPFC Armaya. Sejumlah fasilitas umum (fasum) pemkot yang rusak akibat ricuh tak harus jadi alasan melarang suporter Persinga datang ke Stadion Wilis. ’’Welcome sekali (kepada Persinga). Tapi, kami tetap bergantung kebijakan pihak keamanan (kepolisian, Red),’’ kata pria yang akrab disapa Yayak itu.

Pada laga Derby Mataraman Sabtu mendatang (11/8), suporter Persinga dilarang hadir di Stadion Wilis. Pihak kepolisian mengklaim kebijakan itu tidak diambil sepihak. Melainkan, sudah disepakati antara pihak MPFC maupun Persinga. Pun, kebijakan itu tidak hanya berlaku untuk laga Sabtu esok. The Mad Mania maupun GBB juga dilarang hadir di Stadion Ketonggo, markas Persinga, jika derby digelar di Ngawi. ’’Itu sudah menjadi kebijakan kepolisian,’’ ujarnya.

Yayak memasrahkan kebijakan pengamanan tersebut (termasuk pelarangan suporter tim tamu) kepada aparat penegak hukum. Berbagai pihak harus menghormati keputusan tersebut. Derby Mataraman, kata Yayak, diakuinya menjadi satu pertandingan yang dinanti pencinta bola dua daerah. Masing-masing berharap kemenangan dapat diraih. Meski demikian, tidak seharusnya suporter sampai menghalalkan tindakan anarkis dalam mendukung timnya. ’’Suporter, baik GBB, The Mad Mania, maupun dari Persinga harus bisa menjaga kondusivitas,’’ tegas Yayak.

Toh, Yayak menambahkan rivalitas kedua tim memanas baru beberapa tahun terakhir. Padahal, kedua tim berasal dari dua daerah tetangga yang saling berdekatan. Rivalitas berlangsung sportif dengan terjalinnya sinergi antara suporter kedua tim. Pun, jika kelak hanya ada satu di antara MPFC maupun Persinga yang lolos dari Grup 5 (Liga 3 Zona Nasional), suporter bisa membantu memberi dukungan. ’’Siapa yang lolos kan bisa saling mendukung. Perlu ada sinergitas antara suporter MPFC dan Persinga,’’ bebernya.

Yayak menantikan laga Sabtu esok. Baginya, Derby Mataraman sekarang tak ubahnya laga senior junior di persepakbolaan eks karesidenan. Sebelumnya, kedua tim kerap bertemu dengan komposisi tim penuh diisi pemain senior. Kali ini, lain cerita. Berstatus kontestan Liga 3 Zona Nasional, kedua tim harus diisi mayoritas pemain muda dengan usia di bawah 23 tahun. Pemain senior di atas usia tersebut dibatasi maksimal tiga orang. ’’Selalu ramai dan dinanti. Semua persiapan sudah maksimal, suporter juga harus menjaga diri,’’ tekannya.

Derby Mataraman Sabtu esok menjadi momentum yang tepat bagi skuad Blue Force untuk bangkit usai takluk di kandang PSBK Peta 2-0. Coach MPFC Wahyudi mengatakan, pihaknya kini mencoba memperbaiki berbagai kelemahan di laga sebelumnya. Anak asuhnya kesulitan untuk kompak kala mendapat pressure tinggi dari lawannya. Pun, pada laga lalu, PSBK tak hanya disiplin menekan, namun juga bermain keras. ‘’Ini yang harus diantisipasi (dalam derby Sabtu mendatang), pemain harus tetap kompak dan bermain lepas. Itu kuncinya,’’ tegasnya. (naz/c1/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here