Kuliah Sambil Kerja yang Dilakoni Hablana Nur Amanah

30
PENGALAMAN: Hablana Nur Amanah dan rekan kerjanya di bisnis startup.

Berawal dari keikutsertaannya bekerja paro waktu di Direktorat Pengembangan Usaha dan Inkubasi Universitas Gadjah Mada, Hablana Nur Amanah bergabung dengan Nusantera. Perusahaan yang berbasis teknologi itu jadi tempatnya untuk belajar bekerja.

—————–

FATIHAH IBNU FIQRI, Dolopo

TERGABUNG sebagai relawan dalam sebuah program kementerian tak lantas mengganggu aktivitas kuliah Hablana Nur Amanah. Gadis asli Desa/Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun tersebut sudah tahu betul bagaimana  mengatur waktu. Antara kuliah dan bekerja paro waktu di Direktorat Pengembangan Usaha dan Inkubasi Universitas Gadjah Mada. Gadis usia 20 tahun itu sudah sejak semester dua mulai bergabung dalam jajaran asisten direksi. ’’Saya lebih suka part time,’’ katanya.

Alumnus SMKN 4 Madiun itu lebih memilih mencari kerja paro waktu untuk mengisi waktu luangnya. Dia yang dulu belajar di tata boga saat SMK lantas cenderung gampang bosan dengan mata kuliahnya yang ada di jurusan pariwisata. Hingga akhirinya memilih mencari suasana baru dengan mengambil pekerjaan yang notabene tidak nyambung dengan kuliahnya. ’’Ya karena bosan tadi, saya pilih bergabung,’’ katanya.

Gadis yang akrab disapa Lana itu pun memegang salah satu wadah bagi mahasiswa untuk mengembangkan bisnis startup. Tepatnya adalah Inovative Academy. Pun, program itulah yang rupanya adalah ruang kerjasama dengan program Kementerian Komunikasi dan Informasi yakni Gerakan 1000 startup. Kebetulan di Jogjakarta, kampusnya yang ditunjuk menjadi pusatnya. ’’Dan di sini saya tergabung di event organizer-nya,’’ katanya.

Menurutnya, hal itu tak menganggu kuliahnya sama sekali. Justru dia merasa beruntung lantaran bisa merasakan pengalaman yang cukup berharga. Dia bisa mempelajari serba-serbi startup. Bahkan, dia memiliki kenalan-kenalan baru yang membuatnya makin ingin belajar untuk membuka bisnis startup. ‘’Menurut saya ini menarik, dan meski butuh banyak effort, tapi ini cocok untuk mengembangkan ide – ide anak muda,’’ katanya.

Kini,  dia pun masih tergabung dalam salah satu bisnis startup. Dia menjadi manager human resource dan public relation. Namun dia tak lantas berbangga hati, meski sudah tergabung dalam bisnisnya sendiri dan kawan-kawan, dia masih terus berbenah. Lantaran perusahaannya masih baru. ’’Banyak yang harus dibenahi, terutama juga dari segi promosi juga ,’’ ungkapnya.

Dia menyebut kalau perusahaannya tersebut adalah startup vendor taknologi yang mengintegrasikan hardware dengan software  menggunakan Internet of Things. Pun, startup tersebut adalah jenis business to business. Jadi, ada proyek-proyek yang sudah dikerjakan yakni berupa smartlock untuk sepeda yakni membuat kunci otomatis pada sepeda dengan menggabungkan bluetooth, IOT dan GPS. Sehingga pengguna bisa mengontrol sistem menggunakan smartphone. Healthcare system yakni membangun sistem manajemen informasi dan rekam medis elektronik di rumah sakit untuk mendigitalkan proses kerja di rumah sakit.

Selain itu, mereka juga membuat sistem aplikasi untuk memantau kemajuan kesehatan melalui smartband. Juga, Smartbuilding yakni mereka  membangun satu kesatuan yang padu untuk mewujudkan bangunan cerdas, mulai dari smart camera untuk menganalisis orang-orang yg memasuki gedung, navigasi dalam gedung, juga pemantauan sistem listrik, air, dan gas.

Pengalamannya bekerja di Nusantera cukup banyak. Basic-nya memang di bidang pariwisata, tapi posisinya di human resources terkenal cocok untuk jurusan psikologi. Jadi dia  dituntut harus paham banyak karakter orang, dan bagaimana cara menangani orang, ikut memikirkan masalah orang dan kasih solusi yang cepat dan tepat. ‘’Itu tantangan,’’ ungkapnya. ****(ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here