Kuliah Itu Sampingan, Mondok yang Utama

120

Kiprah Muhammad Asfin Abdur Rohman menyebarkan syiar Islam begitu terasa di hati para jamaah. Keinginan untuk mengajarkan kitab klasik kepada seluruh warga dilalui dengan jalan panjang. Mengajar para santri dari berbagai daerah Eks Madiun di tempat terbuka. Di malam hari, jika turun hujan, dia bersama santri harus menunggu reda. Untuk meneruskan kembali kajian kitab klasik itu.

———————-

NUR WACHID, Ponorogo

JARUM jam tepat menunjukan pukul sembilan malam. Di masjid setengah jadi, beberapa santri dan warga duduk melingkar. Di antara tumpukan material marmer, semen dan peralatan kerja. Dengan takdzim, mereka menyimak kajian kitab kuning yang disampaikan Muhammad Asfin Abdur Rohman.

Di depan masjid terdapat rumah panggung terbuat dari bambu. Menghadap ke selatan seukuran 10×6 meter. Terdapat dua ruang dengan teras yang cukup lebar. Bahan bangunan lain seperti besi yang belum dirangkai tergeletak. Di atasnya tersampir beberapa baju seperti milik pekerja. Dilihat dari bentuknya bangunan panggung itu seperti bekas ruang kelas. Ternyata bangunan panggung itu memiliki nilai historis penting dengan kegiatan keagamaan di masjid. ‘’Jadi memang dulu belum ada masjid, bangunan panggung itu juga belum ada,’’ kata Asfin.

Ustadz kelahiran 1979 itu memiliki impian besar agar seluruh warganya mengerti dan memahami makna isi kitab klasik peninggalan para ulama. Wakil rektor bagian akademik Insuri Ponorogo itu juga bercita-cita membangun perpustakaan besar. Impian itu dia jajaki dari nol. ‘’Saya mulai menetap di sini sejak 2015,’’ lanjutnya.

Di tengah kesibukan menempuh studi doktor Jurusan Kependidikan Islam di UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta, dia tetap aktif mengajarkan kitab klasik. Meskipun pendidikan doktoralnya diselesaikan sembilan tahun sejak masuk 2010, bukan menjadi halangan. Di atas tanah wakaf untuk masjid itu, dia setia membimbing santri setiap hari. Ketika itu, tepatnya 2015, dia membimbing enam santri yang masing-masing berasal dari daerah di Madiun Raya. Dengan segala keterbatasan, ilmu salafi itu ia ajarkan di tempat terbuka tanpa atap, setiap malam. Jika hujan turun, dia bersama santrinya harus menunggu reda untuk melanjutkan pengajian kembali. ‘’Waktu itu, masjidnya baru berdiri fondasinya saja,’’ ungkap Ketua Majelis Fatwa MUI Ponorogo ini.

Mengajarkan kitab klasik kepada santri di tempat terbuka beratapkan langit itu dia lakoni hingga delapan bulan. Baginya tempat bukan masalah, bumi dan langit rindu mengaji. Hingga mengetuk hati warga setempat menawarkan tempat untuk ditempati. Selang beberapa waktu, dana bantuan pendirian masjid terus terkumpul. Masjid mulai dibangun dan dia mendirikan bangunan panggung di depannya untuk tempat mengaji. Semakin lama antusias warga semakin tinggi. Banyak warga setempat yang mulai bergabung dalam pengajian. Mulai kalangan anak-anak, polisi, TNI, hingga kepala desa. Asfin juga tercatat sebagai ustadz di Ponpes Darul Huda Mayak sejak 2005. Tahun yang sama saat dirinya mulai menjadi pengajar di perguruan tinggi. Dia juga rutin mengisi berbagai pengajian mingguan hingga ngaji Dauroh Aswaja bulanan. Juga pengajian di berbagai kota seperti Solo dan Malang.

Semangat syiar Islam itu dia lakukan untuk mengimbangi gencarnya fenomena belajar agama instan saat ini. Di mana, banyak yang lebih memilih belajar agama melalui internet saja. Padahal, mendalami ilmu agama harus jelas sanad keilmuannya dari guru yang sampai ke Rasulullah. ‘’Maknanya hilang kalau ngaji lihat di google. Seolah ada jarak antara umat dengan ulama. Jadi harus bertatap muka, belajar agama ya mengaji seperti ini,’’ tuturnya suami Umi Latifah itu.

Seluruh ilmu yang didapatkan merupakan ilmu dari para ulama yang telah diajarkan selama ini. Lulus dari Ponpes Darul Huda Mayak, Asfin ngaji ke kiai Maimun Zubair di Rembang 1998-2000. Setelahnya, dia direstui untuk meneruskan kuliah Jurusan Kependidikan Islam di UIN Kalijaga Jogjarta lulus 2005. Kuliah hanya sampingan karena di waktu sama dia juga mesantren di Al-Munawir, Krapyak di bawah asuhan Kiai Zainal Abidin. ‘’Kuliah itu sampingan, mondok yang utama,’’ ucapnya. *** (fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here