Kubur Cita-Cita demi Merawat Ayah Tercinta

191
SEPENGGAL CERITA DARI KAKI GUNUNG BANONG: Gadis remaja itu disambangi teman semasa sekolah dasar.

Gadis itu malu menyebutkan nama aslinya. Di usianya yang masih belia, dia kubur dalam-dalam impiannya. Merengkuh pendidikan selayaknya anak-anak sepantarannya. Hari-harinya diisi menunggui ayah tercinta yang terbaring sakit tak berdaya.

———-

DILA RAHMATIKA, Ponorogo, Jawa Pos Radar Ponorogo

RAMBUTNYA yang bergelombang sebahu menutupi wajahnya ketika menunduk. Siang itu, gadis 15 tahun itu ’’reuni kecil’’ bersama Ananda. Teman sekolahnya di SDN 04 Karangpatihan. Keduanya duduk berhadapan di rumah beralaskan tikar. Rumahnya di kaki Gunung Banong. Di atas ketinggian Desa Tanggungrejo, Kecamatan Balong. ‘’Dolano rene to. Awakmu ra tau dolan rene,’’ kata gadis itu melepas rindu menyambut kedatangan teman lama tersebut di rumahnya Rabu (14/8).

Semasa di sekolah dasar, kedua remaja itu berteman dekat. Tinggalnya pun bersebelahan desa. Jika Ananda melanjutkan sekolah, tidak dengan dirinya. Saat kami bercengkerama bertiga, seorang perempuan parobaya masuk ke rumah sembari membawa kayu bakar. ‘’Ibu nggak bisa bahasa Indonesia,’’ terangnya.

Di rumah itu, dia tinggal bersama ayah dan ibu. Neneknya meninggal dunia sebulan lalu. Kedua kakaknya tinggal di luar kota. Kakeknya yang tinggal di rumah lain bekerja seadanya di sawah. ‘’Bapak sakit. Harus bolak-balik suntik ke dokter,’’ ungkapnya.

Saat pertama kali masuk sekolah dasar 2010, dia baru lulus 2019. Sempat tidak naik kelas tiga kali, sewaktu kelas I-III. Tetapi, tetap semangat belajar meski saat lulusnya sudah menginjak usia 15 tahun. Dari sepuluh murid yang lulus ketika itu, hanya dia yang tidak melanjutkan sekolah karena harus mengurus orang tua. ‘’Bantu-bantu di rumah dan kerja,’’ ujarnya.

Belum lama ini, dia menerima pesan singkat dari salah seorang guru SD-nya. Menanyakan kelanjutan sekolahnya. Sebelum meninggal dunia, neneknya yang mengurusi dan mencukupi kebutuhan sehari-hari. ‘’Kalau simbah masih ada, saya sekolah,’’ ungkapnya.

Selain mengurus orang tua dan menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, sesekali dia bekerja di rumah tetangga. Diupah Rp 5.000 sampai Rp 20 ribu sehari. ‘’Kalau ada kerjaan, ya kerja. Kalau nggak, di rumah saja.’’ Dari kakaknya, dia mendengar adanya lowongan kerja sebagai pengasuh di Madiun. Rencananya, November mulai bekerja. ‘’Kakak-kakak saya sekolahnya juga sampai SD,’’ imbuhnya. ***(fin/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here