Kronologi Menegangkan Densus Ringkus Penjual Kacamata

574

MEJAYAN – Denyut terorisme berdetak di Kabupaten Madiun. Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri meringkus Jok, terduga teroris di kios kacamata Jalan Anggrek, Kelurahan Bangunsari, Mejayan Selasa (14/5). Pria yang berdomisili di Jalan Bromo, Desa/Kecamatan Mejayan, itu diperiksa di Mako Detasemen C Brimob Polda Jawa Timur di Kota Madiun. Namun, belum diketahui peran dan keterlibatan jaringan teror pria 47 tahun itu. ‘’Benar ada penangkapan, tapi sepenuhnya dilakukan densus 88,’’ kata Kapolres Madiun AKBP Ruruh Wicaksono.

Operasi senyap densus 88 dilakukan tidak lama setelah Jok membuka kios jualan kacamatanya yang berada di utara Pasar Sayur Caruban itu sekitar pukul 08.30. Penangkapan pria asal Kelurahan Lamper Tengah, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang, Jateng, itu berlangsung tidak lebih lima menit. Hingga membuat sejumlah warga yang sedang beraktivitas di sekitar tempat kejadian perkara (TKP) kebingungan. ‘’Langsung disergap,’’ kata Misdi, penjual pisau yang biasa mangkal di dekat kios Jok.

Misdi sempat mengira penangkapan itu terkait narkoba. Namun, pemikirannya berubah kala tahu ada penjagaan petugas berpakaian serba hitam. Mereka dilengkapi senapan laras panjang. Pakaian tersebut identik personel pengamanan terorisme. Warga lain yang menyaksikan penangkapan tanpa perlawanan itu pun punya pemikiran serupa. ‘’Ramai-ramainya tadi (kemarin) soal teroris. Tapi, pastinya tidak tahu,’’ ujar Beni, pemilik bengkel sebelah timur kios Jok.

Beni yang sedang memperbaiki sepeda motor pelanggan melihat dua mobil Toyota Avanza berhenti di depan kios Jok. Sepengetahuannya ada lima orang keluar dari kendaraan berwarna hitam tersebut. Pria yang dikenalnya setahun terakhir itu lantas masuk dalam mobil yang ditumpangi lima orang berpakaian biasa tadi. Meninggalkan kios dalam keadaan tertutup. ‘’Apa yang dibicarakan kurang tahu karena saya sibuk bekerja,’’ katanya sembari menyebut tidak berselang lama, datang petugas berbeda mengangkut sepeda motor dan helm Jok ke dalam mobil.

Beni mengungkapkan, Jok baru sekitar dua bulanan menyewa kios untuk jualan kacamatan. Sebelumnya lokasi berjualan di trotoar dan tempat lain di Jalan Anggrek sebelah barat. Pria kelahiran Temanggung, Jawa Tengah, itu tidak punya jadwal tetap membuka kios. Dua kali dalam sepekan jadi agenda yang langka. Jam buka pun relatif singkat. Biasanya, buka pukul 10.00, tiga jam berselang sudah tutup. Karenanya, Beni sempat heran dengan Jok yang sudah membuka kios pukul 08.30. ’’Tumben sekali, pikir saya,’’ ucapnya.

Rumah kontrakan Jon dengan dinding warna biru muda dan putih terlihat lengang sekitar pukul 14.30. Meski gerbang pintunya terbuka, tidak terlihat tanda-tanda aktivitas NF dan tiga anaknya. Pun pintu rumah tertutup, tapi dua jendela kayu rumah itu dibiarkan terbuka. Terlihat pakaian dijemur dan tiga sepeda terparkir di halaman. Sedangkan kios kacamata di Jalan Anggrek tertutup. Tidak ada segel polisi yang melingkarinya.

Karopenmas Divhumas Mabes Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo membenarkan ihwal penangkapan Jok berkaitan dugaan kasus teror. Namun, perwira tinggi asal Madiun itu belum berani panjang lebar bicara detail latar belakang penangkapan. Mulai keterlibatan jaringan, peran, hingga pengembangan. Alasannya, demi menjaga keamanan tim densus 88 yang bekerja di lapangan. Selain masih menunggu kepastian aman tersebut, Mabes menanti hasil klarifikasi tim antiteror tersebut. ’’Kalau sudah pasti, nanti diinformasikan,’’ katanya dihubungi via telepon seluler kemarin siang. (cor/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here