Krisis Air Bersih Meluas, Permintaan Dropping Meningkat Drastis

32
SUMBER KEHIDUPAN: Warga Desa Sayutan berebut air bersih bantuan dari BPBD beberapa waktu lalu.

MAGETAN – Krisis air bersih yang melanda Magetan semakin meluas. Sebelumnya hanya Desa Sayutan dan Trosono, Kecamatan Parang saja yang dilaporkan mengalami kekurangan air bersih. Namun, kini krisis air juga terjadi Desa Bungkuk, Parang. Serta dua desa lainnya di Kecamatan Karas. Yakni, Desa Karas dan Kuwon.

Warga yang tersebar di lima desa itu kini harus mencari sumber-sumber air dan mengandalkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Bahkan, di Desa Karas dan Sayutan, masyarakat sampai mengajukan tambahan droping air dari BPBD Magetan setiap hari.

Kepada Jawa Pos Radar Magetan, Ribut, seorang warga Desa Sayutan mengungkapkan ada sekitar 200 kelapa keluarga (KK) terdampak kekeringan. Mereka mengalami krisis air bersih sejak sebulan terakhir. Kondisi itu terjadi karena sumur mereka mengering. Serta minimnya ketersediaan sumber air. ‘’Bahkan, beberapa sumber air di tempat kami sudah mengering,’’ katanya Kamis (27/6).

Diakuinya, bantuan air bersih memang selalu didapatkan warga dari BPBD. Tetapi intensitasnya tidak rutin. Terakhir dropping air bersih justru didapat masyarakat dari bantuan Polres Magetan. Terkait, persoalan ini warga sudah mengajukan permohonan ke pemerintah desa (pemdes) agar dilakukan penambahan bantuan air bersih dari BPBD. ‘’Seharusnya dropping air bersih dilakukan setiap hari di Desa Sayutan,’’ ujar Ribut.

Dampak dari kekeringan tersebut, kata dia, masyarakat harus mencari sumber air ke daerah lain. Bahkan, sampai ke wilayah perbatasan Wonogiri, Jawa Tengah. ‘’Sampai saat ini belum ada bantuan air bersih lagi dari BPBD,’’ kata Ribut.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Magetan Ari Budi Santosa mengatakan, permintaan bantuan air bersih dari Pemdes Sayutan baru diterimanya Selasa (25/6) lalu. Sebagai langkah awal, pihaknya memastikan dropping air bersih dilakukan setiap tiga hari sekali. ‘’Karena sesuai kapasitas tangki, bantuan air bersih itu diperkirakan bisa untuk mencukupi warga selama tiga hari ke depan,’’ terangnya.

Hal tersebut, lanjut dia, dilakukan berdasar laporan kepala desa setempat yang diketahui pihak kecamatan. Juga hasil peninjauan langsung petugas di lapangan bahwa beberapa wilayah di desa itu memang membutuhkan bantuan air bersih.

Terkait bencana kekeringan, berdasar pengalaman tahun lalu, kelima desa itu memang membutuhkan bantuan air bersih. Karena itu, setiap tahun BPBD telah mengusulkan anggaran untuk menanggulangi kekeringan melalui dana biaya tidak terduga (BTT) hingga dana siap pakai (DSP) BNPB. Pengusulan tersebut dilakukan karena anggaran yang bersumber dari APBD hanya sedikit.

Sementara itu, kemarau juga berdampak pada lahan sawah petani di Kecamatan Parang, Panekan, Barat, Sukomoro, dan Magetan. Ratusan hektare tanaman padi di sejumlah wilayah itu puso. Dari hasil perhitungan sementara dengan pemprov dan kementerian pertanian, kerugian akibat kekeringan lahan pertanian diperkirakan mencapai Rp 13 miliar. (mgc/her)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here