Ngawi

Kreativitas Dian Peratania Mendaur Ulang Limbah Plastik

Siapa sangka, ternyata limbah plastik seperti botol air mineral dan sachet-an bisa dimanfaatkan. Di tangan Dian Peratania, sampah itu bisa menjadi bahan dasar kerajinan. Sehingga, bernilai ekonomi tinggi.

===========================

SUGENG DWI NURCAHYO, Geneng, Jawa Pos Radar Ngawi

ANEKA kerajinan tangan berbahan limbah plastik tertata rapi di meja ruang tamu rumah Dian Peratania di Dusun Gunting 2, Desa Dempel, Kecamatan Ngawi, Kamis (17/10). Bentuknya berupa tas, dompet, peci, dan topi. Kesibukan tampak di sudut ruangan tersebut. Dian sedang menjahit beberapa lembar plastik sachet-an menjadi sebuah tas jinjing. ‘’Ini dari daur ulang bekas minuman kemasan, saya potong bagian atasnya untuk disatukan,’’ katanya.

Dian menyebut, kerajinan tangan berbahan dasar plastik bekas itu awet dan ekonomis. Bahkan, ketika diinjak tidak jebol. Usaha tersebut sudah dijalaninya sejak tiga tahun lalu. Bermula ketika dirinya mendapati banyak sampah plastik di sekitar tempat tinggalnya.

Dari situ tebersit untuk memanfaatkan sampah tersebut untuk menjadi sebuah kerajinan tangan. Proses itu dimulainya dengan belajar melalui YouTube. ‘’Daripada sampah plastiknya dijual, uang yang didapat tidak seberapa,’’ ujar Dian.

Beberapa kali Dian sempat kesulitan membuat kerajinan tangan yang diinginkannya. Masalahnya ada pada sulitnya mencari bahan dasar. Terutama limbah plastik yang bentuk dan modelnya sama. Dian mengaku tidak menggunakan cat pewarna supaya tampilannya natural. ‘’Beberapa ada yang saya padu padankan dengan limbah plastik lainnya supaya ada corak warna yang menarik,’’ ungkap perempuan kelahiran 12 Juli 1984 tersebut.

Butuh waktu sekitar satu bulan untuk membuat sebuah kerajinan tangan. Waktu paling lama tersita untuk pengumpulan limbah plastik dengan model yang sama. ‘’Dari situ kemudian dijahit sesuai desain,’’ tuturnya.

Setelah tiga tahun menekuni kerajinan tangan berbahan dasar limbah plastik, Dian mengaku sudah merasakan keuntungannya. Karena pelanggan hasil kerajinan tangan ibu tiga anak itu tidak hanya berasal dari Ngawi, tapi juga dari beberapa daerah lain. Seperti Jakarta dan Surabaya. Untuk wadah pensil karyanya dibanderol Rp 5.000. Sedangkan, tas tangan dihargai Rp 150 ribu. ‘’Awet banget, kalau nggak dibakar nggak akan rusak. Untuk membersihkan tinggal dicuci biasa,’’ terang Dian. ****(her/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
close
PENGUMUMAN
Close