Kota Sulit Terbebas Banjir

152

MADIUN – Penanganan masalah banjir menjadi fokus kerja Pemkot Madiun tahun ini. Salah satunya dengan membangun jalan inspeksi di Kali Sono, normalisasi saluran serta peninggian tanggul sungai.

Hasil kajian dari dinas pekerjaan umum dan tata ruang (DPUTR) menyebutkan pangkal banjir yang sering menggenangi Kelurahan Pilangbango, Kelun, Tawangrejo, Rejomulyo, dan Manisrejo bermuara dari Kali Jeroan, Balerejo, Kabupaten Madiun. ’’Kalau debit air Kali Jeroan dalam posisi naik serta di wilayah Kare turun hujan, pasti terjadi peningkatan volume air di Kali Piring dan Kali Sono yang berdampak pada terjadinya banjir,’’ terang Kepala DPUTR Kota Madiun Suwarno, Jumat (15/2).

Menurut dia dalam posisi seperti itu seharusnya perlu dilakukan pemompaan air. Sehingga, bisa menekan durasi genangan air. ’’Tapi, ketika petugas (rumah) pompa di pintu 13 sana lengah, ya sudah pasti banjir wilayah kota,’’ ujarnya.

Kendati demikian, Suwarno mengaku sudah berkoordinasi dengan pihak Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo untuk menyelesaikan problem klasik tahunan itu. Karena sifat banjir di Kota Madiun berupa antrean air yang bermuara ke Kali Jeroan.

Di sisi lain, DPUTR terus berupaya menormalkan sungai yang menjadi biang banjir di wilayah kota. Di antaranya, Kali Sono dan Kali Piring. Karena dalam beberapa tahun terakhir, air dari sungai itu kerap meluber dan menjadi momok bagi warga sekitar. Terutama warga Kelurahan Kelun, Tawangrejo, dan Pilangbango.

Selain diakibatkan pendangkalan, keberadaan sampah juga membuat aliran air di kali tersebut terhambat. Alhasil, air tumpah ke permukiman warga. ’’Pada tahun ini proses normalisasi Kali Sono di wilayah Tawangrejo kembali dilakukan. Termasuk di dalamnya peninggian tanggul sungai,’’ ujar Suwarno.

Sementara, berdasar dari hasil pemetaan BPBD, terdapat empat kelurahan rawan banjir. Meliputi Pilangbango, Tawangrejo, Kelun, dan Rejomulyo. Banjir terparah terjadi sekitar akhir Januari lalu. Saat itu, empat kelurahan tersebut terendam banjir karena Kali Sono dan Kali Piring meluap.

Diakuinya, kondisi topografi Kota Madiun berada pada daerah cekungan. Sehingga ketika ada kiriman air dari Kabupaten Madiun, banjir langsung melanda wilayah kota. Faktor lainnya adalah tinggi permukaan sungai lebih tinggi dari saluran air yang ada. ’’Dengan demikian, perlu banyak pompa air untuk membuang air dari saluran ke sungai,’’ beber Suwarno.

Saat ini jumlah pompa air di Kota Madiun ada delapan unit. Satu unit milik Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo, sedangkan tujuh unit lainnya milik dinas pekerjaan umum dan penataan ruang (DPUPR). (her/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here