Ponorogo

Korindo Klaim Sudah Kembalikan Uang Calon TKI

PONOROGO – Pihak Korindo akhirnya angkat bicara terkait laporan ke polisi yang diadukan oleh puluhan calon TKI asal Ponorogo, Senin lalu (24/9). Mereka menyatakan bukan merupakan perusahaan penyalur TKI. Melainkan hanya sebuah lembaga pelatihan bahasa Korea (LPBK). Pihak Korindo juga mengaku sebagai korban terkait gagal berangkatnya puluhan calon TKI ke Korea Selatan sejak 2015 lalu.

Tanggapan tersebut disampaikan langsung oleh pimpinan LPBK Korindo Yateni saat ditemui wartawan di tempat tinggalnya di Desa Mrican, Jenangan, kemarin (25/9). ‘’Kami sendiri juga korban dari kasus yang dialami mereka,’’ katanya kepada Radar Ponorogo.

Awal mulanya, sekitar tiga tahun lalu pihak Korindo hanya ingin membantu sejumlah calon TKI yang ingin berangkat ke Korea tanpa jalur tes. Mereka mencoba menggandeng PT KS Plus sebagai perusahaan penyalur jasa calon TKI ke luar negeri yang berkantor pusat di Jakarta Selatan.

Kebetulan, saat itu PT KS Plus sedang membuka lowongan untuk merekrut orang-orang dengan program magang ke Korea. Sebagai tindak lanjut, wakil pimpinan perusahaan tersebut datang ke Ponorogo untuk menyepakati beberapa hal dengan sejumlah calon TKI. Termasuk di dalamnya melengkapi syarat ketentuan administrasi dan pembayaran sejumlah uang untuk kepentingan pembuatan visa dan paspor.

Setelah semuanya lunas, mereka kemudian menjanjikan pemberangkatan ke Korea paling cepat enam bulan setelah seluruh syarat dilengkapi. Namun demikian, saat waktu pemberangkatan tiba, pihak penyalur calon TKI itu ingkar.

Pimpinan perusahaan tersebut menghilangkan jejak. Bahkan, kantor PT KS Plus yang berada di Jakarta Selatan saat dilakukan kroscek sudah tutup. Hingga akhirnya Yateni bersama sponsor lain mengajukan gugatan perdata perkara PT KS Plus itu ke Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan pada 15 Juni 2016. ‘’Ada sekitar 17 penggugat, salah satu di antaranya adalah saya,’’ ujarnya.

Dalam proses persidangan itu juga didapati bahwa hakim memutuskan mengabulkan gugatan yang pihaknya ajukan. Serta menyatakan pihak tergugat (PT KS Plus) diwajibkan untuk membayar denda sebesar Rp 25 miliar.

Kendati sudah ada putusan tetap dari pengadilan, Yateni mengaku telah mengembalikan sebagian uang kepada calon TKI yang sebelumnya sudah dibayarkan ke PT KS Plus. ‘’Hanya tinggal satu orang yang belum saya kembalikan, yang lain sudah saya kembalikan uangnya tapi belum selesai. Saya cicil pakai uang pribadi saya,’’ ungkapnya.

Yang jelas, Yateni meyakini kasus ini masih dalam proses penyelesaian. Termasuk melakukan pengejaran terhadap pihak PT KS Plus. Bahkan, pihaknya sudah berkomunikasi dan meminta bantuan kepada Mabes Polri maupun Interpol untuk menangkap pimpinan perusahaan penyalur jasa TKI tersebut. ‘’Tapi, saya ikuti saja proses hukumnya seperti apa. Saya siap. Saya juga sudah mengantongi bukti pembayaran ke PT KS Plus berikut pengembalian uang pribadi ke anak didik saya (calon TKI, Red),’’ jelasnya. (her/c1/rif)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close