Korban Perkosaan Masih Alami Trauma

115

MADIUN – Ibarat keramik atau kaca yang pecah. Meski kembali direkatkan, tetap ada bekasnya. Seperti itulah kondisi psikologi korban pemerkosaan. Apalagi, jika peristiwa kelam itu dialaminya saat usia belasan.

Analisis yang dilakukan Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Anak (DP2KBP2A) Kabupaten Madiun menegaskan bahwa Ant, korban pemerkosaan itu, butuh tidak sekadar dukungan. ‘’Kondisinya tidak baik. Kami khawatir, ingatan itu akan terus membekas,’’ kata Kabid Pemberdayaan-Perlindungan Perempuan dan Anak DP2KBP2A Kabupaten Madiun Widiasih Murtamengrum kemarin (17/1).

Widi –sapaan Widiasih– mengungkapkan bahwa Ant masih dilanda trauma dan ketakutan. Selalu menangis setiap kali ditanya kronologi penodaan terhadap dirinya. Terutama ketika dilakukan berita acara pemeriksaan (BAP) oleh kepolisian. Proses menggali keterangannya butuh waktu lama. Karena ada bujukan dari sang ibu yang setia mendampingi, bocah yang masih duduk di bangku SD itu perlahan mulai terbuka. ‘’Meski sudah tidak menangis, tapi masih terlihat ketakutan ketika dikunjungi Rabu lalu (16/1),’’ ujarnya.

Dia mengatakan, trauma hebat yang dirasakan Ant muncul karena yang menimpanya tidak hanya pemerkosaan. Melainkan ancaman pembunuhan dengan menggunakan benda tajam. Jangankan anak-anak, dewasa pun bakal ketakutan. Yang merisaukannya, Ant sudah memikirkan dampak dari apa yang telah dialaminya. Sebab, anak seusianya sudah memahami tentang reproduksi. Pelajaran yang umumnya sudah diajarkan di SD. ‘’Walaupun belum akil balig (masa pubertas, Red),’’ tutur Widi kepada Radar Mejayan.

Widi menegaskan, tim pusat pelayanan terpadu pemberdayaan perempuan dan anak (TP2TP2A) bakal mendampingi psikis dan sosial. Namun, jenis treatment yang diberikan bergantung tingkat pascatrauma korban. Seperti perawatan dua kali sepekan atau membawa ke psikiater. Sebab, ambang stres setiap orang berbeda. Pihaknya bakal melakukan assessment dari anggota tim yang berlatar belakang psikolog. ‘’Psikolog dan peksos (pekerja sosial) akan terus memantau,’’ ucapnya.

Widi menegaskan, Ant butuh dukungan dari keluarga terdekat dan lingkungan. Orang tua harus memberikan perhatian dan kasih sayang lebih dari biasanya. Masyarakat juga tidak boleh memberikan stigma buruk terhadap korban. Pun, jangan mengungkit peristiwa pilu itu di depan korban. Itu bisa membuat batinnya terguncang. ‘’Anggap saja seperti tidak terjadi apa-apa. Karena peristiwa itu akan terkenang seumur hidupnya,’’ pesan Widi. (cor/c1/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here