Gaya Hidup Kaum Milenial Dongkrak Popularitas Kopi Robusta Wilis

215

Nikmat kopi robusta Wilis memang sampai di hati. Biji kopi yang berasal dari Lereng Gunung Wilis itu belakangan kian diminati. Semuanya karena sinergi. Yakni para pebisnis kopi maupun petani.

KUALITAS biji kopi robusta Wilis kian jadi primadona. Pasarnya bagus. Pemasaran sudah menjangkau berbagai daerah di Nusantara. ’’Saya juga pernah bawa pameran di Thailand tahun 2017, peminatnya banyak,’’ ujar Dian Rifia, pebisnis kopi Kota Madiun.

Dian satu-satunya wakil dari Indonesia di event Wonderful Indonesia tersebut. Bukti lainnya, di level Jatim kopi robusta berhasil meraih juara III di Festival Kopi Indonesia, kategori business challenge di Surabaya. Itu kompetisi yang digelar Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jatim tahun lalu. Di hadapan dewan juri, Dian memaparkan potensi bisnis kopi robusta Wilis yang dikelola. ’’Artinya sudah dibuktikan di level Jawa Timur,’’ ujar owner Pojokan Kopi.

Prestasi yang ada menjadi gambaran sinergi yang baik antara owner coffee shop dari Kota Madiun dengan petani kopi lokal yang berada di Kabupaten Madiun. Pasalnya, cita rasa kopi ditentukan dari proses maintenance yang baik. Kopi dari hulu sampai ke hilir. Jika proses awal bermasalah dampaknya sampai ke hilir. Semisal, biji  kopi yang baik adalah petikan biji merah. ’’Yang metiknya bukan asal-asalan, petani ini harus diedukasi,’’ jelasnya.

Dian monitoring proses kopi dari awal sampai akhir. Bersama timnya, dirinya getol mengedukasi petani. Bahwa, kualitas bij kopi setara dengan harga yang dibayar. Dian dan kawan-kawan biasa mendatangi Lereng Wilis, tepatnya di wilayah PT Perkebunan Kandangan ketika tiba di musim panen. ‘’Kalau bij kopinya bagus berani kasih harga yang tinggi, ‘’ paparnya.

Dian paham betul perkembangan kopi di Madiun. Dirinya sudah delapan tahun berjibaku dengan perkopian. Keberadaan kopi lokal yang ikut ngetren juga tidak terlepas dari menjamurnya coffee shop di Madiun Raya. Itu dirasakan sejak dua tahun terakhir. ‘’Ada perkembangan tren, dari warung kopi ke coffee shop,’’ jelasnya.

Kaum milenial yang berperan besar dalam perkembangan tren ini. Apalagi industri perfilman Indonesia turut mendongkrak minat anak muda tertarik dengan kopi. Sebut saja, film berjudul Filosofi Kopi yang mengupas kopi secara kompleks. ’’Itu salah satunya yang membuat anak muda tertarik dengan kopi,’’ paparnya.

Lanjutnya, pengaruh dari mahasiswa yang merantau ke luar Kota Madiun turut mengerek industri coffee shop di Madiun.  Mereka yang terbiasa hidup luar kota dengan life style-nya ikut terbawa di kampung halamannya. ’’Makanya di sini kalau musim liburan mahasiswa pasti ramai, karena ke coffee shop udah jadi life style merek,’’ bebernya.

Seiring berjalannya waktu, anak muda juga tertarik mempelajari kopi. Tak heran, banyak anak muda yang terjun langsung sebagai barista. Belakangan, mereka tertarik mempelajari seluk-beluk kopi dari hulu ke hilir. ’’Saya kan juga punya anak didik yang belajar jadi barista, jumlahnya ada 13 orang. Nah, mereka semuanya anak muda, di antaranya sudah ada yang buka coffee shop,’’ paparnya.

Panji Satria Sandi Yudha, warga Jalan Piranha Mas, Kelun, Kartoharjo misalnya telah mendalami seluk beluk kopi sejak tiga tahun terakir. Awalnya, Panji adalah penikmat kopi di warung. Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini akhirnya bertemu dengan Dian. Selanjutnya, Panji memilih menjadi  ’’Jadi nggak puas sekedar belajar serving kopi tapi juga ikut terjun mengedukasi petani kopi,’’ pungkasnya. (mg2/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here