Mejayan

Konstruksi Salah Perencanaan, Dewan Inspeksi Mendadak ke RSUD Caruban

MEJAYAN, Jawa Pos Radar Caruban – Tembok instalasi gawat darurat (IGD) terpadu RSUD Caruban yang ambruk diduga salah perencanaan. Konsepnya tidak sesuai mekanisme konstruksi bangunan. Konsultan pengawas juga tidak intens melakukan tugasnya. ‘’Kami temukan banyak kejanggalan,’’ kata Ketua DPRD Kabupaten Madiun Ferry Sudarsono Jumat (25/10).

Ferry bersama Mashudi, ketua komisi D DPRD, dan sejumlah anggotanya melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi proyek garapan PT Galakarya itu sekitar pukul 13.30. Rombongan yang disambut rekanan pelaksana, konsultan pengawas, dan pihak RSUD Caruban langsung menuju titik ambruk di lantai dua proyek senilai Rp 13,9 miliar itu.

Dewan pun memberondong pertanyaan seputar konstruksi tembok yang belakangan diberi tambahan beton untuk penyangga kanopi. Tambahan tersebut diketahui dari tembok yang masih utuh di sisi utara. Dewan menduga pemicu ambruk karena beton lebih berat ketimbang tembok. ‘’Seharusnya kan tidak seperti itu kalau perencanaannya tepat,’’ ujarnya.

Selain itu, wakil rakyat mempertanyakan ada tidaknya kolom praktis pada tembok yang roboh sepanjang 10 meter itu. Sebab, bekas stek sama sekali tidak terlihat. Rekanan pelaksana menyebut bagian tersebut dilepas pasca kejadian. Penasaran, Ferry minta detail perencanaan dan struktur bangunan ditunjukkan. Interaksi sempat dilakukan dengan konsultan pengawas membahas dokumen tersebut. ‘’Detail kejanggalan akan dibahas bersama lewat hearing,’’ tutur Ferry.

Ferry menyimpulkan, hasil sidak antara perencanaan dengan pengawasan tidak sinkron. Ambrolnya dinding karena faktor kekeliruan pada tahap awal. Pengawasan pun tidak berjalan baik. ‘’Kalau pengawas jeli, pengerjaannya bisa minta dihentikan. Sehingga, ambruk tidak terjadi,’’ paparnya.

Manajer administrasi PT Galakarya Iliya Widiyanto menyebut, kolom praktis besi yang dimasukkan ke dalam dinding butuh waktu agar kuat. Namun, ambrol duluan karena bebannya kalah dengan kanopi berbahan beton.

Terlepas itu, ada kemungkinan human error akibat pengerjaan tembok yang hanya dilakukan dari satu sisi. Sebab, ruang sebelah timur berbatasan langsung dengan bangunan instalasi farmasi. ‘’Kalau masalah spesifikasi tidak ada masalah. Buktinya dinding bagian selatan sudah sebulan masih aman,’’ klaimnya.

Iliya tidak bisa berkomentar banyak ihwal dugaan salah perencanaan. Menurut dia, perlu dibuktikan secara ilmiah dan berdasar literatur. Seperti menghitung beban ultimate dari penyangga, balok, kolom praktis, dan penyangga kanopi. ‘’Pekerjaan tetap kami lanjutkan, tapi ada rekomendasi dari DPUPR untuk mengganti bahan penyangga kanopi dari beton ke ACP (alumunium composite panel, Red),’’ ujarnya seraya menyebut juga berfokus menyelesaikan perbaikan ruang instalasi farmasi yang rusak tertimpa tembok ambruk. (cor/c1/sat)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close