MadiunMejayan

Konsep New Jembatan Patimura, Rombak Total Butuh Rp 14 M

MEJAYAN – Di usia empat dekade, Jembatan Bajulan, Saradan, Kabupaten Madiun akan diperbaiki untuk yang ketiga kalinya. Setelah merampungkan perbaikan darurat ambutment sisi utara, pemkab ancang-ancang memugar total infrastruktur yang dibangun di akhir periode 1980-an tersebut tahun depan. ’’Sebelum yang saat ini, kalau tidak salah ada perbaikan 1995 silam,’’ kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Madiun Arnowo Widjaja kemarin (26/4).

Arnowo menyebut, perombakan jembatan ditaksir memakan biaya mencapai Rp 14 miliar. Estimasi dana kakap tersebut sesuai dengan besaran kegiataan pekerjaannya kelak. Konstruksi jembatan sepanjang sekitar 50 meter dan lebar delapan meter itu bakal dibongkar total. Desain jembatan yang semula jadul diubah menjadi lebih modern. Seperti menghilangkan pilar-pilar yang menancap di dasar sungai. ‘’Jembatan Bajulan ini memiliki dua pilar yang nanti dihilangkan serta membuat konstruksi yang lebih kuat,’’ ujarnya kepada Radar Caruban.

Taksiran biaya mencapai belasan miliar membuat pemkab sulit merealisasikan new Jembatan Bajulan dengan APBD 2020. Ketersediaan anggaran tidak akan mencukupi karena harus dibagi dengan lainnya. Opsi yang direncanakan, DPUPR akan meminta bantuan dana pembangunan ke Pemprov Jawa Timur. ’’Coba kami usulkan minta bantuan keuangan,’’ ucap Arnowo.

Pembongkaran total Jembatan Patimura –nama lain Jembatan Bajulan– dengan pertimbangan proyeksi jangka panjang. DPUPR tidak ingin fondasi keropos lagi karena tergerus arus sungai dari hasil perbaikan darurat. Baik karena akumulasi ketika debit air sungai tinggi atau terdampak bencana banjir seperti awal Maret lalu. Problem ambutment rusak hingga plat injaknya ambles memungkinkan terjadi kembali karena adanya pilar. Konstruksi setinggi delapan meter itu mengganggu aliran air. ’’Arus sungai berubah akibat sampah bambu dari hulu yang tersangkut di pilar,’’ ucapnya.

Menurut Arnowo, fondasi jembatan dalam kondisi baik dan layak sebelum banjir terjadi. Akan tetapi, rerumpunan bambu yang tersangkut di pilar mengubah aliran air ke utara hingga menghantam langsung fondasi. Celakanya, kata dia, debit air kala itu mencapai seribu meter kubik per detik hingga membuat eskalasi gerusan meningkat cepat. Fenomena tersebut terlihat dari bekas gerusan tanah yang cukup lebar di sisi timur fondasi jembatan. ’’Itu diketahui saat peninjauan lepas masa tanggap darurat,’’ ungkapnya.

Alasan lain pembongkaran total, lanjut dia, ruas alternatif Madiun-Ngawi itu dilewati kendaraan berat. Bila kontrsuksi jembatan dan fondasi tidak kuat, kerusakan rentan terjadi. Namun demikian, Arnowo menyebut perbaikan dana yang diusulkan ke pemprov tidak berkaitan dengan rencana mengalihkan status ruas jalan itu provinsi. ‘’Kalau peralihan status itu untuk menyambungkannya dengan jalan nasional,’’ ucapnya. (cor/ota)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close