Kondisi Sulami Terluka Parah, Isi Perut Terburai

197

PONOROGO – Warga Desa Wringinanom, Kecamatan Sambit, Ponorogo geger temuan warga setempat tewas dengan keadaan mengenaskan. Mirisnya, Sulami, 37, ditemukan di teras rumah dengan luka bekas bacokan benda tajam. Bahkan isi perutnya terurai keluar. Kejadian itu diketahui warga setempat, Senin (9/4) malam, pukul 20.30.

Informasi yang dihimpun Radar Ponorogo, sebelum meregang nyawa Sulami yang berlumuran darah teriak minta tolong. Teriakan itu didengar Marsono, Ketua RT/RW 01, desa setempat. Dia bersama warga setempat bergegas mendatangi rumah Sulami. Namun tidak berani mendekat lantaran melihat darah bergelimpangan. ’’Saya suruh warga lain untuk memanggil ibunya,’’ kata Marsono.

Saat kejadian, Sulami ditemukan hanya mengenakan pakaian dalam. Pun saat itu dia sendirian di rumah. Sementara, Boyati, 72, ibunya sedang memijat tetangganya. ’’Tiga puluh menit lebih masih terus teriak minta tolong dan memanggil ibunya,’’ lanjutnya.

Selang tiga puluh menit, Boyati datang. Dia menangis histeris melihat anaknya dalam keadaan mengenaskan. Tidak lama kemudian, Sulami tutup mata untuk selama-lamanya. Warga setempat tidak ada yang berani mendekat hingga ambulance datang. Jenazah dibawa ke RSUD dr Hardjono. ’’Baru warga mulai mendekat, polisi sudah datang ke lokasi sekitar pukul 22.00,’’ ungkapnya.

Kapolsek Sambit AKP Damana mengatakan Sulami tewas akibat luka sayatan sepanjang 20 sentimeter di perutnya. Pihaknya masuk terus melakukan penyelidikan terkait hal itu. Hingga kini polisi belum dapat memastikan Sulami tewas dibunuh atau bunuh diri. ’’Masih kami lakukan beberapa proses penyelidikan, termasuk memerika saksi,’’ kata Damana.

Sejauh ini, empat saksi telah dimintai keterangan. Yaitu Boyati, ibu korban, Marsono dan Ghofur sebagai saksi mata, dan Supeno, warga Dolopo Madiun yang mengaku sebagai suami siri korban. Dari keterangan saksi polisi mendapatkan beberapa petunjuk. ’’Jadi awalnya tidak sendirian,’’ lanjutnya.

Rupanya sejak pagi ada tiga orang di rumah tersebut. Yakni Sulami, Boyati, dan Supeno. Usai maghrib, Boyati pamitan kepada anaknya hendak memijat tetangga. Saat itu Sulami sedang tiduran mengenakan selimut sambil melihat televisi. Supeno berada di dekatnya. ’’Apakah ada kaitannya ketiganya kami masih terus mendalami,’’ ungkapnya.

Berdasarkan keterangan Supeno, dia pamit pulang ke Sulami usai isya. Sejam kemudian Sulami menghubungi suami sirinya itu. Memastikan telah sampai di rumah. ’’Ini masih berupa keterangan (Supeno) yang belum dapat kita ambil kesimpulan,’’ sambungnya.

Kendati demikian, pihaknya belum dapat memastikan kejadian hingga menewaskan perempuan yang belakangan pernah diketahui melakukan dua kali percobaan bunuh diri tersebut. Sulami pernah menggorok lehernya sendiri menggunakan pisau sekitar 2008 lalu. Beruntung saat itu, ada yang mengetahui. ’’Dilarikan ke rumah sakit. Dan membuat geger warga sini juga,’’ tuturnya.

Merasa gagal, Sulami kemudian melakukan percobaan bunuh diri kembali. Selang beberapa tahun kemudian, dia mencoba menyayat urat nadi tangannya. Namun usahanya kembali digagalkan ibunya. ‘’Jadi ini sementara keterangan dari para saksi yang kami terima. Kami juga amankan beberapa alat bukti,’’ ujarnya.

Sementara ini, polisi mengamankan barang bukti. Berupa pisau dapur yang digunakan menyayat perutnya, dua lembar uang Rp 100 ribu, helm warna hijau, dua pasang sandal, guling, botol aqua, mangkok plastik, rantai besi kecil, torong, selimut, rak penjualan bensin, tiga handphone, dan satu klip sample darah korban. ’’Kita tunggu perkembangan lebih lanjut,’’ ucapnya. (mg7/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here