Madiun

Komunitas Rumah Kita Rajin Berbagi dengan Kaum Duafa

Di zaman serbamodern ini ternyata masih ada orang-orang yang memiliki kepedulian sosial tinggi. Anggota komunitas Rumah Kita, misalnya, kerap menggelar aksi berbagi dengan kaum duafa. Bagaimana kisahnya?

—————-

NILAM RIFIA SAVITRI, Madiun, Jawa Pos Radar Madiun

TEPAT di trotoar depan kantor Pegadaian Kota Madiun, pagi itu terlihat beberapa orang sibuk menggelar tikar dan mengeluarkan termos nasi dari mobil. Ada pula yang menata lauk pauk dan memasang banner.

Tidak lama berselang, beberapa tukang becak mampir. Mereka lantas memesan menu yang sudah tertata rapi. Lalu, menyantapnya dengan lahap sambil lesehan maupun duduk di becaknya. ‘’Mereka yang makan di sini boleh bayar Rp 2.000 saja atau gratis,’’ kata Retno Wulandari, salah seorang anggota komunitas Rumah Kita.

Wulan -sapaan akrab Retno Wulandari- dan teman-temannya yang tergabung dalam Rumah Kita setiap pekan rutin menggelar kegiatan sosial. Salah satunya menyediakan makanan bagi kaum duafa melalui program yang diberi nama Warung Sedekah.

Rumah Kita saat ini memiliki sembilan anggota. Semuanya perempuan. Terbentuknya komunitas itu berawal dari hubungan pertemanan. Mereka pernah menggalang dana untuk teman yang saat itu terkena bencana. ‘’Pakai nama rumah bisa diartikan untuk menampung dan mewadahi mereka yang membutuhkan bantuan,’’ bebernya.

Mereka menggelar kegiatan sosial pertama pada 28 Februari 2018. Yakni, bagi-bagi nasi untuk tukang becak, pemulung, dan orang-orang kurang mampu yang ditemui di jalanan Kota Madiun. ‘’Dibagi jadi beberapa rute,’’ kenangnya sembari menyebut setiap aksi kala itu menyiapkan minimal 50 bungkus nasi.

Selanjutnya, aksi bagi-bagi nasi bungkus itu rutin dilakukan saban Kamis malam yang berlanjut hingga sekarang. Wulan dkk juga memiliki dua agenda rutin lainnya. Yakni, Warung Sedekah setiap Minggu pagi dan kunjungan ke panti asuhan sepekan sekali.  ‘‘Jika ada info orang yang butuh bantuan, kami juga bergerak,’’ ujarnya.

Selama ini sumber dana yang disalurkan berasal dari anggota dan hasil penggalangan melalui media sosial. ‘’Alhamdulillah banyak yang menjadi donatur. Mulai teman dekat sampai masyarakat umum yang tahu kegiatan kami dari Instagram,’’ ungkap Wulan.

Masih lekat di ingatan Wulan saat Warung Sedekah-nya diserbu beberapa orang lantaran dikira tempat makan beneran. Meski telah berupaya memberi penjelasan, mereka bersikukuh hendak makan di situ. ‘’Akhirnya kami layani juga. Bayar Rp 5 ribu. Mau bagaimana lagi,’’ kenangnya.

Ada juga kegiatan yang membuat haru. Yakni, saat mereka berkunjung ke asrama sebuah SLB. Melihat para penghuni yang memiliki keterbatasan, Wulan dkk seolah merasa diingatkan agar selalu bersyukur.

Rumah Kita juga memiliki agenda kegiatan saat peringatan satu tahun komunitas. Yakni, mengajak anak-anak panti asuhan ke Taman Trembesi. Di sana mereka menggelar lomba-lomba dan mengajak mereka bermain. ‘’Pernah juga kami kerja sama dengan salah satu toko baju. Diberi 25 voucher belanja gratis, kami bagikan kepada mereka dan orang-orang yang membutuhkan,’’ tuturnya.

Wulan dkk juga sering menggalang dana secara khusus untuk membantu seseorang. Salah satunya, Syamsi. Pria berusia sekitar 70 tahun itu mereka temui ketika berjualan kerupuk di pinggir jalan kawasan Banjarejo. ‘’Maaf, jalannya pincang, kakinya bengkak. Tapi, masih semangatnya mencari uang. Akhirnya kami galang donasi, alhamdulillah terkumpul lumayan banyak,’’ sebutnya. *** (isd/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
× How can I help you?
Close