Madiun

Komunitas MSA Populerkan Musik Metal, Sisipi Perform Budaya Lokal

Musik dengan genre metal itu tidak melulu berbau hal negatif. Komunitas Madiun Satu Arah (MSA) misalnya. Rutin menggelar festival setiap tahunnya. Melalui ajang itu dipakai untuk memberi edukasi kepada publik.

————————–

FATIHAH IBNU FIQRI, Madiun

PROPOSAL bersampul mika merah tergeletak di meja yang terbuat dari penggulung kabel listrik. Di samping proposal itu ada laptop yang menyala. Ada gambar beberapa banner promosi yang siap di-upload. Masing-masing banner berbeda-beda. Satu terdapat satu gambar band. Bukan hanya band dari Indonesia, ada salah satunya dari Meksiko. ’’Itu guest star yang kami siapkan untuk event Oktober nanti. MSA ke-8,’’ ungkap Adhi Purnomo, founder Madiun Satu Arah (MSA).

Ya, festival musik underground terbesar eks Karesidenan Madiun itu memang digawangi MSA. Baik pra maupaun pasca event. Sudah menjadi kebiasaannya mondar-mandir untuk mencari sponsor. Memang susah. Sebab, genre musik metal masih terbilang awam. Penyukanya belum terlalu banyak di Madiun Raya. ’’Musik metal kan belum tentu semua masyarakat suka,’’ ujar warga Desa Tiron, Kecamatan/Kabupaten Madiun itu.

Pria 41 itu menambahkan, musik metal kebanyakan disukai anak-anak muda. Di Kabupaten Madiun pun hanya sekitar lima sampai enam band beraliran metal. Jika lebih kerja keras mengumpulkan maksimal sampai sepuluh. Itu pun belum tentu mau membantu dirinya menggali sponsor. ’’Karena hanya segelintir saja yang mau, yang mau bantu hanya beberapa saja,’’ ungkapnya.

Dia pun curhat kalau kendala utama dalam menyelenggarakan event musik ini adalah dana. Dia pun kerap nombok. Masih mending kalau ada yang mem-backup sebagian ongkos produksi. Pun, dia tak jarang mendapat support dari rekan-rekan yang memiliki usaha distro maupun merchandise. Sehingga, dia pun juga ikut membantu mereka dalam promosi ketika event berlangsung. ‘’Kali ini nanti juga begitu,’’ ungkapnya.

Festival musik itu sebenarnya pertama kali digelar pada tahun 2012 lalu. Pun,sempat vakum dua tahun. Hingga akhirnya mulai lagi pad  tahun 2014. Setelah itu, mulai rutin digelar tiap tahun. Dan rencananya tahun ini bakal digelar di kawasan Kota Madiun. Pun, festival itupun akhirnya juga menjadi sebuah komunitas untuk mewadahi para pemusik underground dan mayoritas memang yang bergenre metal. ’’Sebenarnya apapun bisa, tapi memang kali ini yang cukup banyak adalah metal,’’ katanya.

Selain MSA yang menjadi event utama dan terbesar, ada event-event kecil lainnya yang juga digarapnya. Kalau MSA mencapai 20 band lebih, jika event-event kecil hanya sampai 10 band saja. Namun, untuk dalam waktu dekat ini dirinya fokus untuk ke MSA ke-8. Juga, dia masih butuh banyak sekali sponsor untuk mendukung acaranya tersebut. ’’Dan sudah ada 10 band yang bisa fixed tampil. Selebihnya kita masih cari-cari, kita nanti akan tampilkan 23 band, rencananya,’’ bebernya.

Kecintaaanya pada musik metal itu memang cukup lama. Terhitung sejak kuliah di Universitas Merdeka Madiun. Bahkan, dulu sempat kampus itu berjuluk kampus hitam karena seringnya ada event musik metal tersebut pada sekitar tahun 2000-an. Setelah dia DO dari kampus itu. Namun tetap menekuni musik tersebut. Hingga saat 2012 itu dia pun berani untuk membuat festival. ’’Untuk mengenalkan musik ini pada masyarakat,’’ katanya.

Dia tahu betul kalau musik metal bukan musik yang lahir asli dari Indonesia. Jelas, sebagian besar masyarakat masih awam. Dan dia pun menyadari kalau yang disukainya pun bukan termasuk budaya asli Indonesia, khususnya Madiun. Maka dari itu, di setiap gelaran event pasti dibuka dengan reyog Ponorogo meski bukan pertunjukan yang lengkap. ‘’Kita inginnya agar tidak lupa dengan budaya asli Indonesia. Untuk tahun ini nanti mengangkat budaya asli Kota Madiun, yakni pesilat,’’ tandasnya. *****(ota)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close