Komunitas Egrang Bawa Misi Menumbuhkan Minat Baca Anak

21
INSPIRATIF: Komunitas Egrang menggelar lapak baca di Jalan Teuku Umar, Ngawi, saat momen car free day Minggu (14/7).

Berangkat dari keresahan minat baca rendah, Komunitas Egrang terbentuk. Selain saat car free day, lapaknya juga digelar di kegiatan bakti sosial dan sekolah pelosok.

——————-

DENI KURNIAWAN, Ngawi

DI tengah lalu lalang warga ber-car free day (CFD), sejumlah pemuda bergerombol di salah satu trotoar Jalan Teuku Umar, Ngawi. Mereka duduk lesehan bersanding beberan buku. Seorang ibu yang mengandeng anak mendekatinya. Sang anak mengambil buku bersampul merah muda yang lantas dibukanya. ‘’Kami dari Komunitas Egrang menyediakan buku yang bisa dibaca gratis,’’ kata Aria Kusuma Aji, ketua komunitas itu.

Lantas apa kaitannya egrang dengan buku? Egrang, komunitasnya Aji, itu adalah akronim Energi Gembira Anak Negeri, bukan permainan yang dikenal menggunakan tongkat. Komunitas yang terbentuk Juni tahun lalu ini risau dengan rendahnya minat baca anak-anak di Bumi Orek-Orek. ‘’Anggotanya baru ada tiga. Saya dan dua teman,’’ ungkap warga Desa Dero, Bringin, itu.

Kemarin (14/7) menjadi momen Aji dkk kembali menggelar tikar di CFD setelah beberapa pekan sebelumnya absen. Sebab, pemuda 24 tahun itu sibuk sebagai relawan. Sedangkan dua temannya mengikuti kuliah kerja nyata (KKN). ‘’Meski cuma tiga anggota, yang ikut kegiatan dari komunitas lain cukup banyak,’’ ujarnya.

Di awal berdiri, Komunitas Egrang sempat dikira kumpulan pemuda berjualan buku. Tidak sedikit yang bertanya harga. Menemui warga semacam itu, Aji pun menerangkan bahwa buku dibaca di tempat, tidak boleh dipinjam atau dibeli. ‘’Kami ingin menumbuhkan minat baca anak-anak. Hari ini (kemarin, Red) sekitar 10 anak yang datang ke lapak,’’ tuturnya.

Komunitas Egrang menyediakan berbagai buku anak-anak dengan koleksi 200 judul. Mulai dongeng, ensiklopedia, komik, dan majalah anak. Ratusan buku itu pemberian donatur asal Ngawi atau Bali dan Jawa Tengah. ‘’Ada reseller dari Ngawi yang memfasilitasi pembelian buku untuk didonasikan ke kami,’’ ungkapnya seraya menyebut buku donasi diseleksi untuk menghindari yang tidak layak dibaca anak.

Tidak hanya saat CFD, Komunitas Egrang juga menggelar lapaknya hingga ke desa pelosok dan SD pinggiran. Komunitas ini juga kerap diminta mengisi acara kegiatan sosial dari komunitas lain. ‘’Tidak minta bayaran,’’ ujarnya. ***(cor/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here