Komunitas 7-wellu Angkat Penghasilan Ratusan Peternak Kelinci

279

Sejumlah peternak kelinci di kawasan Ngawi barat berhimpun dalam satu wadah, 7-wellu. Rasa risau seputar beternak hewan bertelinga panjang itu menjadi tonggak awal terbentuknya komunitas yang sekarang memiliki 150 lebih member. Apa saja kegiatannya?

———————

DERETAN kandang persegi menyesaki salah satu bangunan di rumah Joko Iswoyo. Di dalam kotak-kotak berbahan terali besi itu tampak beberapa kelinci sedang asyik mengunyah makanan. Sementara, sekumpulan peternak tengah berdiskusi santai di salah satu sudut ruangan.

Sesekali, seorang di antara mereka serius mengamati hewan bertelinga panjang itu, lantas mengeluarkannya dari kandang. ‘’Kami dari komunitas 7-wellu, kumpulan peternak kelinci,’’ ujar Joko.

Di 7-wellu, Joko dipercaya sebagai ketua komunitas. Warga Desa Wakah, Kecamatan Ngrambe, itu merupakan satu dari tujuh pemrakarsa terbentuknya komunitas tersebut pada awal 2018 lalu. Obrolan warung kopi dengan bahasan seputar kelinci menjadi tonggak awal terbentuknya perkumpulan. ‘’Cerita-cerita tentang kendala cara beternak kelinci sampai kandangnya,’’ katanya.

Seringnya mengobrol seputar seluk beluk beternak kelinci berakhir dengan sebuah kesepakatan. Joko bersama enam peternak lainnya memutuskan untuk membuat sebuah komunitas. Tujuannya untuk bertukar ilmu dan menambah referensi seputar ternak kelinci.

Anggota komunitas itu dengan cepat berkembang setelah mereka membuat grup Facebook. ‘’Sekarang anggota 7-wellu sudah tembus 150 peternak kelinci dari berbagai daerah. Mayoritas Ngawi barat,’’ ungkap pria 36 tahun tersebut.

Setelah banyak yang bergabung, muncul ide kopi darat (kopdar). Seingat Joko, sebelum komunitas menjadi aktif seperti sekarang ini, member grup Facebook kali pertama bertatap muka pada 23 Februari 2018. Mereka menggelar kopdar di kawasan Terminal Ngrambe. ‘’Sharing tentang kelinci sambil menjalin silaturahmi,’’ tuturnya.

Selain grup Facebook, komunitas ini juga membuat grup WhatsApp (WA). Dengan begitu, setiap keluhan anggota bisa langsung mendapat respons dari anggota lain. Sekadar saran dan masukan dibeber satu sama lain atas dasar kebersamaan. ‘’Tujuan utama terbentuknya komunitas ini adalah untuk memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat,’’ ujar Joko.

Sesaat setelah terbentuk, 7-wellu menjadwalkan agenda pertemuan rutin. Secara bergiliran, pertemuan berpindah-pindah dari rumah ke rumah anggota komunitas. Segala unek-unek seputar kelinci ditumpahkan pada setiap pertemuan.

Termasuk bagaimana cara menanggulangi penyakit yang kerap menyerang kelinci. Mulai kembung, koksi, sekabis, sampai jenis penyakit yang lain. ‘’Biasanya kumpul pertengahan bulan, setiap tanggal 14,’’ ungkapnya.

Seiring berjalannya waktu, anggota komunitas melebar hingga ke luar daerah. Pun, bahasan komunitas yang semula berkutat pada kendala beternak kelinci akhirnya juga membahas pangsa pasar dan cara pengolahan hasil peternakan.

Keseriusan para peternak kelinci yang berkumpul dalam 7-wellu ini berbuah manis. Kantong para anggota komunitas kian menebal. ‘’Ada teman dari luar daerah yang produksi barbagai olahan dari daging kelinci. Selain untuk sate dan rica-rica, ada yang dibuat menjadi nugget, sosis, dan abon,’’ papar Joko. ***(deni kurniawan/isd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here