Kisah Pilu Dinda Ekawati, dari Ditinggal Cerai Orang Tuanya hingga Jual Gorengan demi Sekolah

212
TAK JUALAN: Dinda Ekawati menyempatkan waktunya belajar saat sedang libur jualan gorengan.

Di sebuah rumah papan sederhana, Nadia Ekawati tinggal bersama Mursidah, neneknya. Siapa yang menyangka di usianya yang masih 13 tahun, dia sudah menjadi tulang punggung bagi keluarganya. Sebab, ayah dan ibunya memilih bercerai. Bagaimana kisahnya ?

———————–

FATIHAH IBNU FIQRI, Sukomoro, Jawa Pos Radar Magetan

SENYUM lebar tampak terpancar di wajah Dinda Ekawati. Sekilas gadis berusia 13 tahun itu seperti bocah biasa yang tak memiliki masalah. Namun, jika ditelisik ke kehidupannya yang sebenarnya, pelajar kelas V SDN Kentangan 1 ini ternyata memikul beban hidup yang sangat berat. Beban yang tak sewajarnya dirasakan bocah seusianya.

Betapa tidak, sejak dua tahun terakhir, Dinda harus menghidupi dirinya sendiri dan membantu ekonomi Mursida, neneknya. Mereka tinggal di Dusun Tales, Desa Kentangan, Sukomoro, Magetan. Di sebuah rumah sederhana berukuran 4×5 meter. ‘’Sudah sejak usia dua tahun saya tinggal bersama nenek,’’ katanya kepada Jawa Pos Radar Magetan Kamis (1/8).

Saat itu, kata dia, orang tuanya sudah bercerai. Ibunya sekarang tinggal di KPR Waru Regency. Sedangkan, ayahnya tak tahu keberadaannya sampai saat ini. Masalah hidup itu ternyata tak lantas membuat Dinda putus asa. Ketika beranjak SD, dia sudah diajari mandiri oleh neneknya.

Puncaknya setahun terakhir, ketika Dinda sudah beranjak remaja. Dia getol membantu neneknya menopang ekonomi keluarga. Dia berjualan gorengen keliling dengan menggunakan sepeda. Aktivitas itu dilakukannya hampir setiap waktu sepulang sekolah. Karena memang penghasilan Mursida selama ini sebagai penjual barang bekas atau rosok tidak tentu. ‘’Saya merasa kasihan kepada nenek. Karena jualan rombeng sama rosok banyak nggak dapat duit. Akhirnya saya memilih untuk jualan (gorengan),’’ ujarnya.

Berbagai jenis gorengan yang dijual oleh Dinda itu dimasak sendiri oleh Mursida. Selanjutnya, dipasarkan keliling Magetan. Tetapi, biasanya di Terminal Maospati dan Pasar Sayur. Karena memang banyak pembelinya. ‘’Niat bantu nenek. Kalau ada sisa dari hasil jualan dimakan sendiri. Sedangkan, uangnya sebagian ditabung untuk keperluan sekolah,’’ ungkapnya.

Meski hidup serba pas-pasan, namun Dinda memiliki tekad kuat. Dia sangat gigih mencari uang agar bisa tetap sekolah dan membantu ekonomi neneknya. Bahkan, pihak sekolah justru mendukung langkah Dinda. ‘’Yang penting tidak sampai mengganggu waktu belajar saya,’’ ujarnya. ***(her)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here