Madiun

Kisah Perjuangan Suparlan dan Kaminah Merawat Anak Polio

Seseorang berusia 20 tahun pada umumnya sudah bisa hidup mandiri. Namun, penyakit polio mengharuskan Candra bergantung pada kedua orang tuanya.

ANGGIYAN BAYU, Jawa Pos Radar Caruban

 

TUBUHNYA telentang dengan kedua tangan terangkat ke atas. Posisi lengannya sejajar kepala. Perempuan berambut ikal di sebelah kanan menyuapi makanan kepada anak itu. Kunyahan tidak sepenuhnya bisa ditelan. Belepotan nasi di mulut diusap kain oleh pria di sebelah kirinya.

Anak yang terbaring lemah di tikar itu tak lain Candra. Anak pertama dari dua bersaudara pasangan suami istri (pasutri) Suparlan dan Kaminah yang menemaninya makan itu. ‘’Kata dokter, anak saya kena polio,’’ kata Kaminah.

Cara pasutri yang tinggal di Desa Bagi, Kecamatan/Kabupaten Madiun, itu merawat Candra tak ubahnya memperlakukan bayi. Kesehariannya hanya tiduran. Merengek dan merintih. Bila ingin memandikan atau buang air, tubuhnya harus dibopong ke kamar mandi.

Hal itu menjadi tugas Suparlan. Sebab, Kaminah tidak kuat membopongnya. ‘’Jadi, kalau suami keluar, anak saya mandi harus menunggu dia pulang,’’ ungkap perempuan 57 tahun tersebut.

Gangguan pertumbuhan Candra muncul saat masih berusia sebulan. Gejala awalnya demam. Suparlan lantas membawa buah hatinya berobat ke salah satu rumah sakit di Kabupaten Madiun. Dokter mendiagnosis polio. Sejak itu, Candra tidak pernah diobati lagi karena tidak punya biaya. ‘’Saya cuma tukang becak, kadang dapat uang kadang tidak. Istri saya ibu rumah tangga,’’ terang Suparlan.

Sering kali Suparlan frustrasi. Merasa bersalah karena tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengurangi penderitaan Candra. Dia berhitung, untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari saja susah, apalagi mengobati anaknya. ‘’Saya tidak kuat melihat penderitaan anak saya. Kalau kami tiada, siapa yang akan merawatnya,’’ ucap Suparlan seraya menyeka air matanya dengan kaus.

Ketika keputusasaan melanda, pria 61 tahun itu mencoba tetap tegar. Sekuat tenaga menjalani hidup dan berjuang demi anaknya. Bila tidak dapat penumpang, dia mengais rosok untuk dijual.

Beberapa waktu lalu, satu-satunya motor dijual untuk kebutuhan sehari-hari. Terdesak ekonomi buntut pandemi Covid-19. ‘’Anak saya yang kedua dirawat pamannya (saudara Suparlan, Red),’’ ujarnya.

Kondisi sulit keluarga Suparlan membuat para tetangganya iba. Sering kali mereka memberikan bantuan. ‘’Bantuan itu saya suruh berikan ke anak saya langsung. Saya tidak berhak menerima,’’ tuturnya.

Sekretaris Desa Bagi Sidiq Aprianto berjanji membantu meringankan beban penderitaan Candra. Pihaknya berencana menganggarkan bantuan desa mandiri tahun depan.

Skema itu menilik keterbatasan bantuan dari program pemerintah. ‘’Karena sudah dapat PKH (program keluarga harapan, Red), sehingga tidak bisa lagi dapat BLT DD (bantuan langsung tunai dana desa),’’ ujarnya sembari menyebut sejumlah organisasi masyarakat sering memberi santunan untuk Candra. ***(cor/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close