Kisah Pengungsi Gempa-Tsunami Palu: Dua Malam Hanya Makan Mi Mentah

127

KEDUA bola mata Marta Kumowal menatap nanar ketakutan. Perempuan 61 tahun itu masih trauma. Suara gemuruh gempa di Palu pada Jumat lalu (28/9) masih dirasakannya hingga kini. ’’Mendengar ada yang mengangkat kursi, saya takut. Rasanya ingin lari keluar rumah, saya masih trauma,’’ kata Marta saat ditemui Jawa Pos Radar Madiun di kediaman saudaranya di Jalan Pesanggrahan, Taman.

Sepekan sebelum musibah  itu datang, Marta diselimuti rasa cemas. Getaran kecil terjadi terus-menerus. Selama itu pula Marta mengajak Yosefina Kumowal, ibunya, tidur di teras rumah. ’’Di dalam jiwa bergumul rasa ketakutan,’’ ujar Marta.

Tepat Jumat sore gempa kecil kembali terjadi. Marta melarang kedua cucunya yang baru pulang sekolah masuk ke dalam rumah. Pada saat bersamaan, Yosefina bersikukuh ingin mandi. Dengan tergopoh-gopoh Marta mengantar Yosefina ke kamar mandi. ‘’Dua kali gayung, saya bilang cukup mamah, cukup, mamah keluar, saya takut terjadi apa-apa sama mamah, mamah jalan lambat pakai tongkat,’’ ucapnya kala itu.

Setibanya di teras rumah, Marta membantu sang ibu melilitkan kain batik. Belum sempat berpakaian lengkap, tiba-tiba tanah bergoyang  hebat. Marta terpental keluar teras bersama kedua cucunya. Dia juga melihat  Yosefina membubung ke udara. ‘’Mau berdiri saja susah,’’ akunya.

Mereka hanya terdiam merayap sampai getaran berhenti. Kurang dari satu menit gempa berangsur reda. Spontan Marta berlari menolong Yosefina. Terlihat tangan kanan ibunya lebam karena terjatuh ke tanah. ’’Mau masuk ke dalam ambil kursi roda, saya takut ada gempa susulan, seisi rumah tumbang,’’ paparnya.

Malam itu, Marta, Yosefina, dan kedua cucunya memilih tidur di halaman rumah yang lapang. Tetangga sekitar rumah juga berkumpul di halaman rumahnya. Karena dinilai lapang dan jauh dari bangunan rumah. ’’Malam itu saya peluk anak dan cucu, sampai jam 22.00 bertemu kerabat lain yang mencari keberadaan kami,’’ urainya.

Melihat kondisi ibu yang membutuhkan perawatan, Marta ingin membawa Yosefina keluar Kota Palu. Sejatinya ada rumah sakit, namun Marta takut. Karena rumah sakit berada dekat dengan pantai. ’’Minggu pagi saya berjuang ke bandara karena semua orang berebut ingin keluar Palu. Pesawat keberangkatan mana pun yang ada pada hari itu juga, pokoknya kami pilih,’’ kenangnya.

Hercules tujuan Manado yang siap terbang saat itu. Kebetulan tempat mengungsi Marta bersama keluarga dekat dengan Bandar Udara Mutiara SIS Al-Jufrie. Tanpa berpikir panjang Marta membawa Yosefina menaiki pesawat Hercules. ’’Di dalam pesawat situasinya sudah lapang, dari Manado terbang ke Surabaya, dari Surabaya dijemput adik dan langsung ke Madiun,’’ urainya.

Sampai saat ini Marta masih menjaga komunikasi dengan keluarganya di Palu. Sebagian keluarganya ada yang sudah bertolak ke Balikpapan. Ada juga yang memilih tetap tinggal di Palu. ’’Saya sampai sekarang tidak tahu keluarga dari suami saya yang tinggal di Donggala, apakah mereka masih hidup atau tidak,’’ ungkapnya.

Marta tinggal bersama delapan anggota keluarganya di dalam rumah di Jalan Patimura, Palu Selatan, Kota Palu. Pada saat terjadinya gempa ada lima anggota keluarga. ’’Kami bersyukur semua selamat, hanya luka-luka. Wilayah kami berada di kotanya, satu kilometer dari rumah kami kondisinya parah,’’ paparnya.

Marta belum tahu sampai kapan dia akan mengungsi di Madiun. Gempa ini membuatnya berpikir apakah akan kembali menetap di tanah kelahirannya tersebut. Sebab, dari pemberitaan yang dia dengar dari televisi, kondisi geografis tanah Palu rawan gempa. Rasa takut menghuni Palu menyelimuti perasaannya. ‘’Saya tahu dari berita, Palu diapit tiga lempeng tektonik, jadi rawan gempa,’’ jelasnya.

Marta mengatakan, warga Palu masih sangat membutuhkan bantuan. Masih segar dalam ingatan Marta, dua malam di Palu hanya bisa makan mi mentah. Kondisi serbasulit. ‘’Mau bagaimana lagi, ke mana-mana tidak ada bensin, masuk rumah takut,’’ ungkapnya. (mg2/c1/ota)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here