Kisah Pencari Batu di Sungai Parangan, Karangrejo, Arjosari

121

Banjir batu di Dusun Wonosari, Karangrejo, Arjosari, adalah bencana. Namun, di sisi lain jadi berkah bagi sebagian warganya. Mereka mengumpulkan bebatuan di sekitar lokasi banjir untuk selanjutnya dijual.

————–

KAUS biru Maryono mulai berubah kecokelatan. Cipratan lumpur dari Sungai Parangan menghiasi ”seragam” kerjanya. Bergumul dengan lumpur sudah jadi makanan sehari-hari. Dengan sabar, warga Dusun Wonosari, Karangrejo, Arjosari, itu mengangkat satu per satu batu besar dari sungai. Hingga tak terhitung material banjir batu tersebut terangkut di pundaknya.

Setahun terakhir Maryono menggeluti pekerjaan barunya sebagai pengumpul batu. Banjir bandang akhir 2017 silam telah membuatnya kehilangan lahan pertanian sebagai mata pencarian andalannya. Musibah banjir batu kini berubah jadi berkah. Berbekal sisa-sisa  tenaga tuanya, Maryono mengumpulkan batu mulai pukul 07.00 hingga 15.00. ‘’Istirahat cuma sekali, saat makan siang,’’ kata laki-laki 63 tahun itu.

Tidak mudah jadi pengumpul batu. Meski hanya tinggal mengangkat dari sungai. Apalagi usianya yang tak lagi muda membuat tenaganya cepat terkuras. Tak jarang dia menggantikan istrinya memecah batu berukuran besar agar mudah diangkat. Hingga tangan keriputnya jadi kasar lantaran terlalu sering mengangkat dan menggenggam palu. ‘’Sudah biasa seperti ini, pekerjaannya memang ini,’’ ungkap Maryono.

Meski bekerja keras hingga berbasah peluh, namun hasil yang didapat tak sebesar batu yang diangkatnya. Tak menentu, harga yang ditawarkan para tengkulak berubah-ubah. Saat banjir batu, per rit (satu mobil pikap) hanya dihargai Rp 50 ribu. Padahal, Maryono butuh lima hari untuk mengumpulkan sebanyak itu. Meski mudah mencarinya, namun berat dilakoni. Tak sebanding dengan uang yang didapatnya. ‘’Kalau gak banjir harganya Rp 150 ribu. Kalau lagi sulit batu, bisa Rp 210 ribu,’’ bebernya.

Selain minim rupiah yang didapat, lelah menumpuk batu terkadang hanya menghasilkan keringat. Para pengepul tak jarang batal datang. Masalahnya, lokasi dusunnya terlampau jauh dari kota. Sehingga, pengepul memilih yang lebih dekat. Mau tak mau Maryono harus menelan kekecewaan sembari menunggu pengepul lainnya datang. ‘’Kadang sepekan baru datang, kadang sebulan dua kali,’’ tutur bapak dua anak itu.*** (sugeng dwi/sat/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here