Kisah Muram Penjual Daging Ayam di Pasar Eks Stasiun Ponorogo

353

PONOROGO – Pembongkaran bangunan kios di dalam pasar eks stasiun menyisakan kisah muram bagi para pedagang yang menempatinya. Cindy Ruslya, satu dari sekian penyewanya, tertunduk lemas. Jauh dari kerumunan, dia terduduk lemas dan berulang mengusap air matanya yang berlinang.

Semangat niaga remaja itu seolah padam. Matanya nanar menatap tempat mengais rezeki sehari-hari telah dirobohkan. Wajahnya yang saban ketemu terlihat ceria melayani pembeli, berubah muram. Barang dagangannya dibiarkan tergeletak di trotoar. Sementara alat berat terus merobohkan bangunan itu tanpa henti. Ingin melawan apalah daya. Dirinya hanya seorang pedagang. Dalam hati kecilnya, eksekusi pembongkaran itu tidaklah manusiawi. ‘’Saya ingin pemerintah hadir memberikan solusi yang terbaik. Kalau begini jadi bingung’’ ratapnya.

Cindy pun tidak tahu bagaimana nasib pembayaran uang sewanya yang terlanjur lunas. Besarannya mencapai Rp 65 juta. Ingin kembali berdagang, namun tidak tahu di mana. Sebab, los 4 di pasar relokasi itu sudah penuh. Ditempati pedagang pasar eks stasiun yang berpindah terlebih dahulu. Hanya tersisa lahan terbuka di belakang los. Ada pula yang ditempatkan di lahan yang baru saja diuruk. Sudah jatuh, Cindy bagaikan tertimpa tangga. ‘’Saya tidak tahu lagi mau bicara apa,’’ ucapnya sedih.

Nestapa juga dirasakan Sutini, ibunya. Dia yang juga berjualan daging ayam sejak puluhan tahun silam itu kebingungan. Tak punya harapan mendapat lapak memadai di pasar relokasi. Pilihannya, berdesakan dengan pedagang lain di sisa lapak yang disediakan. ‘’Selama ini, mencari rezeki dari situ (pasar eks stasiun, Red). Sekarang bingung, harus bagaimana,’’ tuturnya. (mg7/c1/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here