Pacitan

Kisah Mbah Katiyem Setengah Abad Bertahan Memproduksi Gula Merah

Pohon kelapa banyak dijumpai di hampir seluruh wilayah Pacitan. Sebagian warga tidak hanya mengambil buahnya. Namun juga menyadap air manggarnya untuk bahan baku pembuatan gula merah. Salah satunya Katiyem, yang telah menekuni usahanya 50 tahun.

———————

SUGENG DWI, Pacitan

TANGAN keriput Katiyem memegang gagang sendok kayu. Air berwarna merah di atas tungku tradisional terus diaduknya searah jarum jam. Sesekali kayu bakar ditambah sembari menjaga panas api tetap maksimal. Hampir tiga jam, cairan dari tetesan manggar (bunga kelapa) itu mulai mengental pertanda gula merah siap dicetak. ‘’Sudah sejak kecil, dari zaman dulu buat gula merah,’’ kata Katiyem dalam bahasa Jawa.

Nenek 85 tahun itu mahir membuat gula merah sejak setengah abad lalu. Mempertahankan warisan orang tua. Sehari-hari warga Dusun Duren, Wonoanti, Tulakan, itu mampu membuat dua hingga tiga kilogram gula merah. Berbekal resep khusus, gula merah produksinya memiliki cita rasa legit dan menggugah selera. Selain jadi penghasilan utama, mengolah sadapan air manggar juga untuk mengisi waktu pada masa tuanya. ‘’Kalau ke sawah sekarang sulit, karena tubuh sudah gak segesit dulu,’’ tuturnya.

Dari delapan pohon kelapa miliknya, 12 hingga 14 bumbung (batang bambu) air manggar diolah ibu tiga anak itu setiap hari. Biasanya, dibantu putra bungsunya yang menyadap air setiap pagi dan sore. Tak bisa dibiarkan terlalu lama, air sadapan yang telah diturunkan dari pohon harus segera diolah sebelum basi. ‘’Pagi ambil langsung direbus, sore ambil langsung direbus. Jadi, sehari buat gula dua kali,’’ jelasnya.

Membuat gula merah bukan pekerjaan mudah. Terlebih usia Katiyem tak lagi muda. Selain harus langsung dimasak tiga jam, api untuk merebus harus tetap dijaga maksimal. Setelah air telah berbuih, diangkat untuk diaduk lagi satu jam. Semakin lama adonan akan mengental membuat adukan kian berat. ‘’Setelah itu baru dicetak di atas mangkuk kecil, dulu pakai bambu cetakannya,’’ ungkap Katiyem.

Hampir sehari penuh membuat gula merah, bukan berarti kerja keras Katiyem berharga mahal. Per kilogram gula merah hanya dihargai Rp 11 ribu hingga Rp 14 ribu oleh tengkulak. Pun dia hanya bisa menjual lima hari sekali menunggu hari pasaran. Padahal membuat gula tak jarang harus melewati kegagalan saat sadapan air manggar berkualitas jelek. Sehingga, harus dibuang atau dikonsumsi sendiri lantaran tak laku. ‘’Namanya kedhok, setelah diaduk gak mau mengental, modelnya mirip jenang,’’ sebutnya.*** (sat/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close