Kisah Kiai Musyafa Melanjutkan Perjuangan Bapaknya sebagai Ulama

276

Mendahulukan kepentingan umum ketimbang urusan pribadi. Prinsip itu dipegang Kiai Musyafa. Warga Desa/Kecamatan Gerih memilih membesarkan Ponpes Miftahul Ulum yang dibangunnya, ketimbang merenovasi rumah hunian warisan bapaknya.

 ————————

DENI KURNIAWAN, Ngawi

SORE menjelang temaram, Kiai Musyafa menemani sejumlah santrinya membersihkan masjid di kompleks Ponpes Miftahul Ulum. Pengasuh ponpes di Dusun Centong, Desa/Kecamatan Gerih, itu lantas menuju ke rumah kuno tepat di timur masjid. Tubuhnya sedikit membungkuk kala melewati pintu kayu utama. ‘’Silakan duduk,’’ kata Musyafa yang menjatuhkan badannya di kursi rotan ruang tamu.

Rumah berlantai tanah itu adalah tempat tinggal Musyafa sehari-hari bersama istrinya, Anita Mariatul Husna dan dua anaknya. Sejumlah poster bernuansa reliji menghiasi dinding yang masih berupa batu-bata. Bangunan sangat sederhana ini kontras dengan Ponpes Miftahul Ulum yang didirikannya 2001 silam. Berlantai dua yang ditempati 55 santri mukim dan seratusan nonmukim. ‘’Rumah ini kan peninggalan orang tua. Pondok yang diutamakan, renovasi rumah besok-besok masih bisa,’’ ujarnya.

Musyafa kecil sudah punya pemikiran visioner. Dia dirundung kekhawatiran atas kondisi masjid yang dibangun bapaknya bila sudah meninggal dunia. Apalagi, bapaknya merupakan ulama desa yang menjadi panutan warga. Bila sosok tersebut sudah tiada, warga kampung halamannya dikhawatirkan keluar dari ajaran Islam. ‘’Tujuh tahun mondok penuh perjuangan,’’ kata pria 43 tahun itu.

Lulus SD, Musyafa mondok di Ponpes Miftahul Ulum Jogoloyo Wonosalam, Demak, Jawa Tengah. Dia langsung pulang setelah dua tahun berguru dengan KH Khumaidi Tamyis. Namun, hanya sebentar di kampung halaman, kembali memutuskan mondok di Ponpes Asyafaah, Cluring, Banyuwangi untuk memperdalam ilmu agama. ‘’Saya nderek dalem di Demak dan Banyuwangi,’’ katanya seraya menyebut pekerjaan di luar belajar membantu berjualan es dan bercocok tanam.

Sepulangnya dari Banyuwangi, Musyafa melanjutkan hidup di jalan syiar Islam. Suatu ketika, dia “menyembuhkan” orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Kemampuan tersebut menyebar luas secara gethok tular. Hingga ada enam orang gila yang dirawat di rumahnya yang sederhana. Seorang di antaranya tahanan polisi Magetan karena sudah tidak punya keluarga. ‘’Sebelum saya fokus membangun pondok, saya menampung ODGJ selama tiga tahun,’’ ungkapnya.

Pemberian kasih sayang dan kegiatan menyibukkan diri adalah upaya penyembuhan ODGJ. Bukannya tanpa kesulitan. Tamparan, cakaran, hingga disembur makanan kerap diterima Musyafa. Tidak sedikit pasiennya yang dirawat itu kembali normal. Namun, beberapa kabur karena luput pengawasan. ‘’Alhamdulillah. Saya sempat dengar ada yang bisa bekerja,’’ katanya sembari menyebut perawatan ODGJ hanya berlangsung tiga tahun dan diganti praktik ruqyah. ***(cor)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here