Kisah Keluarga Suwarni Lolos dari Teror Hujan-Angin Kencang

212

Hujan disertai angin kencang Selasa lalu (15/1) menyisakan trauma di benak keluarga Suwarni. Tak terkecuali Sumiyati, anaknya. Perempuan penyandang polio ini sempat berpikiran hidupnya akan berakhir saking mencekamnya suasana petang itu.

——————–

SEORANG perempuan sedang menyapu lantai teras rumahnya di Dusun Kerso I, Desa Kersoharjo, Geneng. Beberapa pecahan genting menggelinding akibat sapuan lengannya. Sesekali dia tersenyum kepada sejumlah warga yang bergotong royong memperbaiki atap rumahnya. Sejurus kemudian, pecahan genting terkumpul di sudut pelataran tak jauh dari tumpukan puing-puing asbes. ‘’Kena hujan-angin kemarin sore,’’ kata Suwarni.

Rumah perempuan 59 tahun tersebut merupakan salah satu yang terdampak hujan dan angin kencang Selasa lalu (15/1). Suwarni tahu persis suasana mencekam kala itu. Rasa takut mulai menjalarinya sekitar pukul 17.00. Tepatnya saat gelegar petir yang kelewat keras menusuk telinganya. ‘’Dua kali rentetan petir, keras sekali. Langsung ndredeg saya,’’ kenangnya.

Gemetaran yang dirasa Suwarni semakin menjadi. Beberapa genting menghujani lantai tegel rumahnya dari atap tanpa plafon. Suara puluhan genting yang hancur berjatuhan dalam waktu singkat sudah cukup membuatnya kalang kabut. Padahal, angin mengamuk di atas rumahnya tak lebih dari 10 detik. ‘’Langsung banjir, deras hujannya,’’ ungkapnya.

Saat musibah datang, Suwarni berada di dapur. Gelegar rentetan petir berlanjut suara pecah genting berjatuhan membuatnya spontan berlari ke ruang tamu. Dia kepikiran Sumiyati, salah seorang anaknya yang menderita polio sejak berusia tiga tahun.

Bersamaan dengan genting berjatuhan, Suwarni menuntun putrinya yang hanya bisa merangkak. Ibu-anak tersebut menuju bagian bawah atap yang lebih aman. ‘’Kami berkumpul di pojokan belakang sana,’’ kata Suwarni.

Di sudut ruangan yang aman dari runtuhan genting, ketakutan malah semakin terasa. Kebetulan, dua cucu Suwarni –satu kelas II SD dan satu lagi TK– saat itu berkumpul di rumahnya. Isak tangis lantaran takut dari dua cucu Suwarni menambah suasana mencekam. Suwarni, Sumiyati, dan dua bocah itu hanya bisa bergerombol dijalari ketakutan. ‘’Omahe mboke ambruk, omahe mboke ambruk,’’ ujar Suwarni mengingat perkataan dua cucunya yang menangis.

Sesaat setelah angin berhenti mengamuk, Suwarni memberanikan diri beranjak dari tempat aman. Berjalan berjingkat-jingkat menghidari pecahan genting, dia menuju pintu utama rumah.

Suwarni hendak membuka pintu agar genangan air di lantai ruang tamu keluar. Gagang daun pintu ditariknya ke arah dalam. Matanya terbelalak melihat atap teras yang tak lagi berasbes. ‘’Atapnya hilang semua kena angin,’’ imbuhnya.

Suwarni kembali menuju anak dan dua cucunya di sudut ruangan. Matanya yang baru saja mendapati atap teras yang kosong melompong, disuguhi pemandangan lain. Getir menyeruak di dadanya saat melihat putrinya yang merangkak menuju dua karung gabah, menyereti pecahan genting. Seketika itu juga, dia meminta putrinya kembali ke tempat aman. Yang ada di kepala Suwarni pada petang mencekam itu hanyalah bagaimana cari selamat.

Sekitar 15 menit Suwarni bersama anak dan dua cucunya dilingkupi ketakutan. Mereka mulai merasa tenang saat hujan berhenti. Beberapa saat berselang, sejumlah kerabat menyambangi rumahnya. Termasuk beberapa anak-menantu dan sejumlah warga lainnya. ‘’Semua menanyakan kondisi anak saya,’’ katanya.

Atap rumah Suwarni memang sudah diperbaiki kemarin pagi (16/1). Namun, memori saat hujan-angin masih terekam jelas. Tidak terkecuali di ingatan Sumiyati –putri nomor tiga Suwarni dan Damin. Sumiyati yang hanya bisa merangkak sempat berpikiran hidupnya akan berakhir petang itu. Dia pesimistis bisa menyelamatkan diri dengan kondisi fisiknya. ‘’Saya pikirnya rumah akan roboh,’’ kata perempuan 40 tahun tersebut.

Dengan mata berkaca-kaca, Sumiyati bersyukur lantaran apa yang terlintas di kepalanya tidak benar-benar terjadi. Ya, suasana mencekam benar-benar membuatnya ketakutan. Dia sadar kalau ada apa-apa, ibu dan dua keponakannya yang masih bocah tidak mungkin membopongnya lantaran tidak cukup kuat mengangkat. ‘’Bapak bekerja, buat kandang ternak di rumah saudara,’’ terang Sumiyati. *****(deni kurniawan/isd/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here