Kisah Keluarga Lukki Cahyono yang Bertahun-tahun Hidup di Tengah Belantara

643

Hidup di tengah belantara menjadi pilihan keluarga Lukki Cahyono. Menahun sudah, keluarga ini hidup di rumah ala kadarnya di antara lebatnya ladang jagung. Tanpa listrik dan jauh dari jangkauan sinyal telekomunikasi. Cuaca buruk dan serangan hewan melata menjadi ancaman sehari-hari.

……………………….

DERAP kaki bersautan bunyi pakaian yang bergesekan dengan dedaunan. Sorot cahaya lampu senter menerangi tanah basah dan licin bersamaan dengan tubuh menerobos ladang jagung setinggi 1,5 meter. Selang-seling tanjakan dan turunan membuat perjalanan menuju rumah Lukki Cahyono di RT 18, RW 03, Dusun Kedungbrubus, Desa Bulu, Kecamatan Pilangkenceng, Kabupaten Madiun, malam itu tidak mudah ditembus. ‘’Awas, terpeleset. Perhatikan jalan,’’ seru Lukki memimpin barisan.

Pekan lalu  (28/1), Lukki mempersilakan Jawa Pos Radar Madiun menginap semalam di gubuk yang dianggapnya sebagai rumah. Huniannya terasing di tengah belantara hutan jagung. Sekitar enam kilometer dari perkampungan terdekat. Masih di areal Perum Perhutani KPH Saradan BKPH Tulung di Desa Duren, Pilangkenceng. Atau 1,5 kilometer dari bangunan terdekat yang memakan waktu tempuh 15 menit berjalan kaki. Dua bangunan itu berwujud warung dan kantor administrasi Waduk Kedungbrubus. Dua tempat yang ramai saat kondisi tertentu.

Terjal jalan dan kegelapan bukan satu-satunya rintangan sejak berangkat dari gapura waduk. Juga, harus menyeberangi sungai berkedalaman 3 meter selebar 30 meter. Untuk melewatinya harus menggunakan perahu rakit kayu jati. Transportasi air itu tidak digerakkan dengan tongkat atau dayung. Melainkan dikatrol atau ditarik dengan tali dadung yang terikat pada tunggak kayu di dua tepi sungai. Air sedikit membasahi kaki kala menginjakkan lantai perahu yang mengambang berkat ratusan botol mineral di bawahnya tersebut.

Saat di rumah Lukki, jam di telepon seluler (ponsel) menunjukkan pukul 21.00. Senyap suasana di luar kontras dengan kondisi di dalam rumah. Uluk salam Lukki saat membuka pintu dibalas Siti Fatimah, istrinya. Perempuan 30 tahun itu masih terjaga dalam temaram cahaya api dari sisa minyak penggorengan yang diletakkan di kursi bambu. Di tempat itu pula, Siti tengah mendampingi Ian Denis Ramadhani, anaknya, belajar membaca. ‘’Jam belajarnya tidak tentu, sesukanya Ian,’’ kata Lukki.

Sehari-hari, rumah itu hanya ditinggali Lukki, istri, dan anaknya yang baru lima tahun itu. Namun, sejak siang Rahmad Dias Albi turut menemani. Bocah itu tinggal bersama kakek dan neneknya di Desa Pulerejo, Pilangkenceng. Tapi sering tinggal bersama keluarga kecil itu. Keponakan Lukki itu seusia Ian. Keduanya sama-sama kelas nol kecil di TK Tunas Rimba 3 di kompleks perum Perhutani KPH Saradan. ‘’Berangkatnya sama-sama,’’ ujarnya.

Rumah Lukki tak berjendela, tak pula berfasilitas mandi cuci kakus (MCK). Sebanyak 12 potong kayu jati asal ditancap sebagai fondasi. Berlantai tanah, atap ditutup seng, dengan dinding puluhan bilah kayu ukuran sedapatnya. Tidak kesesuaian antara satu potongan dengan lain membuat celah cukup lebar. Terutama dinding bagian timur yang terbuka hingga dua sentimeter. Khusus dinding bagian selatan tidak sepenuhnya menggunakan papan kayu. Potongan seng dan anyaman kawat dijadikan pelengkap. Bagian dalamnya ditutup terpal yang dipisahkan sebuah pintu.

Dengan logat Madura, Siti kerap bercanda sarkas atas kondisi hidupnya. Misalnya, mengucap selamat datang di istana kala menyambut kedatangan koran ini. Serta bercerita bila saban hari mandi di kolam yang sebetulnya itu adalah sungai. Juga ketika memutuskan tidur dengan alasan keesokan hari ada rapat di kantor. Padahal, keseharian perempuan asal Jember itu hanya bercocok tanam membantu suami.

Satu jam sebelum berganti hari, Lukki mengajak membakar jagung di depan rumah. Kobaran api unggun yang dibuat dari potongan tunggak jati cukup ampuh menghalau dinginnya malam. Yang di termometer digital ponsel menunjukkan angka 26 derajat Celsius. Sembari menunggu jagung matang, pria yang pindah ke Kabupaten Madiun dari Jember pada 2007 silam ini bercerita sejarah keputusan hidup mengucil. Istrinya diboyong pindah dari rumah orang tua di Pulerejo ke Kedungbrubus lima tahun silam. Ditindaklanjuti dengan mengubah kartu keluarga (KK) tahun lalu. Dilatar belakangi banyak hal. Seperti tidak enak hati karena rumah berstatus warisan yang ditempati banyak keluarga. Juga, keinginan belajar mandiri sebagai kepala keluarga. ‘’Kalau pilihan tinggal di sini (jauh dari permukiman, Red) karena dekat ladang yang saya garap. Biar tidak wira-wiri,’’ terangnya sambil menyebut Jember adalah asal bapak dan Kabupaten Madiun kelahiran ibunya.

Keputusan memanfaatkan lahan dibangun rumah atas seizin kepala dusun setempat. Diperbolehkan dengan catatan tidak dibuat permanen. Tanpa pungutan bulanan, kecuali saat nyadran atau pembersihan makam. Itu pun hanya iuran seikhlasnya. Rumah semipermanen itu dibangun bertahap. Awalnya hanya berukuran 3×5 meter. Orang tua dan warga membantu tenaga selama pendiriannya. Sebagai ganti jerih payah itu, Lukki membantu menanam dan memanen jagung. Rumah diperluas menggunakan uang tabungan beli kayu, seng, dan sebagainya. ‘’Habis lima juta,’’ ungkapnya.

Lukki pula yang membuat perahu rakit untuk menyeberang. Muatannya tak boleh lebih enam orang dewasa. Ada ratusan botol air mineral kemasan besar sebagai alat pengapung perahu. Dia mengenang setidaknya butuh 18 sak untuk mengumpulkan botol tersebut. Akan tetapi, bukan berarti perahu yang seperempat bagiannya telah ditumbuhi tanaman itu lancar-lancar saja. Hampir pasti ada kerusakan botol lantaran lama tidak terpakai ketika kemarau. ‘’Harus sering dicek dan segera diganti kalau ada yang retak,’’ tuturnya.

Lukki bercerita caranya mengais pundi-pundi rupiah. Dia menggarap lahan seluas kurang lebih satu hektare milik waduk yang dimodali lembaga masyarakat desa hutan (LMDH). Aset lahan diklaim milik Perhutani itu digarap lewat sistem sharing. Penghasilan yang diperoleh setiap kali panen bervariasi tergantung harga di pasaran. Berkisar Rp 2-3 juta. Dipanen empat bulan sekali. Ketika belum memasuki masa panen, dia mencari ranting kayu bila ada permintaan. Juga, bercocok tanam sayuran yang hasilnya dikonsumsi sendiri serta dijual. Seperti bayam, kangkung, ketela, dan labu. ‘’Tidak di pasar, tapi dijual ke ibu-ibu teman sekolahnya Ian,’’ ucap pria yang sempat enam bulan menjadi kernet ekspedisi barang ini.

Tinggal ’’sendirian’’ di tengah hutan jelas tidak aman. Ancaman angin kencang selalu mengusiknya. Setiap kali hujan deras disertai lesus menerjang, dia langsung membawa anak dan istrinya keluar rumah. Tidak peduli siang atau malam. Bersembunyi di antara rerimbunan jagung. Tidak masalah badan basah. Asal keluarganya selamat. Saat hujan turun malam, jangan harap bisa tidur nyenyak. Banyak celah kebocoran di rumah sangat sederhana itu. Paling berbahaya, ancaman ular, kalajengking, dan binatang melata lainnya. ‘’Ular sering masuk rumah,’’ ungkapnya.

Belum selesai bicara, senter di tangan Lukki tak sengaja menyorot ular sebesar jari kelingking orang dewasa merayap di tanah. Spontan, Lukki memukul berulang kepala ular yang merayap di timur rumah itu dengan ranting bambu. Insiden itu cukup membuat bulu kuduk bergidik. Membuyarkan keheningan malam yang sebelumnya hanya berteman celoteh jangkrik. Setelah memastikan ular itu tidak bernyawa, Lukki bergegas menyebarkan garam di sekeliling rumahnya. ‘’Ini ular bandotan macan,’’ sebutnya.

Selama menempati rumah di tempat terpencil, Lukki pernah sekali merasakan gangguan mistis. Dia terlihat emosional kala menceritakannya. Diawali kejadian seorang pemancing tewas tenggelam di aliran sungai tiga tahun lalu. Malam setelah jasadnya ditemukan, dia melihat penampakan makhluk berpakaian putih. Gangguan suara yang tidak jelas membuatnya merinding. ‘’Saya memutuskan pulang ke rumah orang tua. Setelah tiga hari baru berani kembali,’’ kenangnya.

Cerita panjang lebar Lukki berkesudahan pukul 02.15 memasuki Selasa (29/1). Kami memutuskan tidur di tikar yang sebelumnya sudah disediakan. Belum genap 10 menit memejamkan mata, salah seorang dari kami merasakan badannya disenggol sesuatu yang besar. Cerita Lukki tentang ular langsung berkelebat. Sesuatu yang membuat jantung serasa mau copot itu ternyata bukan ular. Hanya anak kucing peliharaan Ian. Mata berusaha dipejamkan kembali. Meski nyamuk terus berdengung di telinga. Suaranya lantas berganti teriakan bocah. Jam di ponsel menunjukkan pukul 05.30. Ian dan Albi bersiap sekolah. (cor/c1/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here