Ngawi

Kisah Kamsidi Bangkit dari Keterpurukan usai Alami Kecelakaan

Kamsidi kini menikmati buah ketekunannya di tengah keterbatasan fisiknya. Pria yang harus kehilangan kaki kanannya itu sekarang sukses menggeluti usaha jahit di rumahnya.

===============

SUGENG DWI, Ngawi, Jawa Pos Radar Ngawi

SUARA mesin jahit listrik itu terdengar menderu. Sementara, tangan Kamsidi hati-hati menuntun kain warna oranye ke bawah jarum yang bergerak naik turun. Lekukan demi lekukan diikutinya sesuai pola. Tidak lama berselang, sudut kain ditarik hingga terlihat potongan baju berukuran sedang.

Di antara beberapa mesin jahit listrik itu, tampak puluhan baju memenuhi ruang produksi warga Desa Pleset, Pangkur, tersebut. Beberapa helai sengaja digantung. Sementara, sisanya berserakan di antara mesin jahit lantaran masih dalam proses pengerjaan. ‘’Lumayan banyak garapannya,’’ ujar Kamsidi.

Siapa sangka, Kamsidi merupakan seorang difabel. Kaki kanan pria itu harus diamputasi 22 tahun silam usai terlibat kecelakaan saat berjualan jamu keliling di Pekalongan, Jawa Tengah. Kakinya terserempet motor lain. ‘’Waktu itu, ada motor dari arah berlawanan menyalip mobil di depanya. Waktu papasan menyerempet kaki dan dagangan jamu saya,’’ kenang Kamsidi.

Beberapa saat usai kecelakaan, perhatian bapak satu anak itu justru terpaku pada botol kaca wadah jamu jualannya. Dia waswas botol pecah hingga harus merugi. Nah, saat hendak berhenti memeriksa dagangannya, Kamsidi baru menyadari tumit kakinya tak dapat digerakkan untuk mengerem motornya. ‘’Akhirnya saya berhenti pakai rem depan dan minta tolong warga dibawa ke rumah sakit,’’ ungkapnya.

Beberapa hari menginap di rumah sakit Pekalongan, Kamsidi lantas pulang ke Ngawi dan rawat jalan ke sebuah rumah sakit setempat. Namun, bukannya membaik, kondisi kaki Kamsidi justru kian parah. ‘’Atas saran teman, saya lalu melakukan pemeriksaan ulang dan dokter memutuskan kaki saya harus diamputasi. Waktu itu, saya benar-benar shock,’’ kenangnya.

Sempat berbulan-bulan pria kelahiran 1979 itu enggan keluar kampung. Saban hari hanya menghabiskan waktu di kamar atau sekadar berkeliling halaman. Rasa malu dan minder membuatnya memilih berdiam diri di rumah kala itu. ‘’Habis kecelakaan terus direhabilitasi di RC Solo (rehabilitatie centrum RS Orthopedi dr Soeharso, Red). Di sana ambil keterampilan reparasi sepeda motor,’’ terangnya.

Belajar keterampilan dan bertemu dengan sesama penyandang disabilitas membuka mata Kamsidi. Dibantu petugas, perlahan dia bangkit. Pun, setelah lulus pelatihan sempat bekerja di bengkel tak jauh dari rumahnya.

Beberapa bulan kemudian dia mendapat saran dari dinas sosial untuk melanjutkan pelatihan di Bangil, Pasuruan. ‘’Sampai Bangil ternyata kelas reparasi motor sudah tutup, akhirnya daripada pulang sia-sia saya ikut kursus menjahit,’’ imbuhnya.

Setelah lulus pelatihan, Kamsidi bekerja di tempat jahitan. Dari situ pula keterampilannya menjahit semakin terasah. Mulai jahit kaus, baju, hingga obras dan sablon dikuasainya. ‘’Tahun 2010 buka usaha sendiri. Alhamdulillah ramai,’’ ucap Kamsidi.

Kini, pelanggan Kamsidi tak hanya warga sekitar tempatnya tinggal. Dia memiliki sejumlah pelanggan dari Magetan dan Jawa Tengah. Order jahitan mulai dari sekolah, perusahaan swasta, hingga instansi pemerintahan tidak pernah sepi. ‘’Kalau pas ramai-ramainya seperti Lebaran atau tahun ajaran baru sering lembur,’’ ungkapnya. *** (isd/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close