Magetan

Kisah Joko Siswanto Menggeluti Budi Daya Cacing Ekor Kuning

Hal yang dianggap jijik maupun sepele bisa mendatangkan pundi-pundi rupiah yang berlimpah. Kuncinya adalah ketekunan dan konsistensi untuk membesarkan usaha tersebut. Misalnya yang dilakukan Joko Siswanto dengan usaha budi daya cacing.

———————-

S RESKA PRADINA, Magetan

SUDAH menjadi rutinitas, Joko Siswanto memanen cacing tanah Jumat (19/7). Tangannya terlihat mengais-ngais tumpukan media tanam cacing. Dalam sekali mengais, puluhan cacing terangkat. Mirip mi. Cacing yang dibudidayakan di Desa Baleasri, Kecamatan Ngariboyo, itu memiliki panjang 8–12 sentimeter.

Cacing tersebut berusia sebulan dari masa pembibitan. Umur itu sudah tepat jika dipanen. Bisa dibilang sudah dewasa. Walaupun masa panen cacing sebulan sekali, Joko bisa panen setiap minggu. Sebab, dia tidak hanya punya satu kotak budi daya cacing.

Sengaja dibuat kotak-kotak agar lebih mudah saat memanen. Juga, pertumbuhan cacing berbeda. Dengan begitu, bisa dipanen setiap pekannya. ‘’Bagi orang lain, cacing ini menjijikkan. Tapi, penghidupan saya justru dari cacing ini,’’ katanya.

Dalam seminggu, bisa dipanen 5–10 kilogram cacing. Biasanya cacing tersebut dijual ke Jakarta, bandung, dan Surabaya. Ada juga yang membeli secara online. ‘’Dari mana-mana yang beli online. Tapi, paling jauh dari Jakarta,’’ terangnya.

Joko mengaku sudah menggeluti budi daya cacing tanah jenis lumbricus rubellus atau cacing ekor kuning itu sejak 2013 lalu. Dari situ, Joko mengaku bisa meraup pendapatan sekitar Rp 20 juta per bulan.

Cacing tanah asal Eropa ini, biasanya digunakan untuk bahan pembuatan kosmetik. Juga dipakai untuk obat tradisional. ‘’Kalau cacing ini kan di ekspor, katanya untuk bahan pembuatan kosmetik pemutih wajah,’’ kata Joko. ***(her)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close