Kirab Seribu Takir di Sampung Sarat Arti dan Filosofi

270

PONOROGO – Arak-arakan panjang menghiasi sepanjang jalur Gua Lowo menuju Gunung Gamping, Sampung, kemarin (3/2). Barisan paling depan muda-mudi berdandan ala prajurit. Menyusul di belakangnya, delapan orang memikul dua tandu berisi seribu takir berisi nasi kuning dan lauk-pauk khas Jawa.

Seribu takir yang diusung dalam acara pagi itu memiliki filosofi tersendiri. Orang Jawa memaknai takir sebagai takwa, pikir, dan zikir. Sementara, seribu dimaknai banyaknya doa yang terpanjat. ‘’Seribu takir mewakili seribu zikir, doa, dan harapan. Bermunajat kepada Tuhan,’’ kata Wisnu Hadi Prayitno, koordinator acara.

Sebelum seribu takir diarak, para sesepuh mengadakan ritual di Gua Lowo yang dipercaya sebagai situs peninggalan purba. Batu stalagmit yang ada di bibir gua dilapisi bentangan kain putih. ‘’Putih bermakna suci, sekaligus ini menandai banyak potensi yang digali dari gua yang ditemukan ratusan tahun lalu itu,’’ ujarnya.

Setelah doa terpanjatkan, seribu takir dikirab menempuh jarak lima kilometer menuju Gunung Gamping. Kirab diikuti rombongan seni jaran thek. Pun, tidak sedikit warga di sekitar jalur kirab yang bergabung dalam barisan hingga lokasi tujuan.

Setelah tiba di Gunung Gamping, seribu takir diletakkan di tengah-tengah kerumunan. Seorang sesepuh desa lantas membacakan mantra dan doa. Mulutnya komat-kamit dan sesekali tangannya menengadah. Setelah itu, seribu takir dipurak. ‘’Kami selipkan juga doa agar desa sini dijauhkan dari bala dan berbagai penyakit. Apalagi, saat ini DBD (demam berdarah dengue, Red) sedang mewabah,’’ tutur Wisnu.

Tanpa dikomando, ratusan warga berebut takir yang dipercaya mendatangkan keberkahan itu. Ritual diakhiri dengan penampilan kesenian jaran thek. ‘’Budaya adiluhung ini harus terus dirawat agar generasi muda mengenalnya, minimal tahu,’’ ucapnya. (mg7/c1/isd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here