Cuaca Buruk, Kuli Panggul Pelabuhan Terpuruk

71

PACITAN – Cuaca buruk dan sepinya tangkapan ikan tak hanya berdampak pada penghasilan para nelayan di Pacitan. Namun juga dirasakan kuli panggul di pelabuhan. Pasalnya, tak ada kapal besar yang melaut. Sehingga, tak ada yang menggunakan jasa mereka. ‘’Gak ada yang datang (kapal, Red), ya santai-santai,’’ kata Mislan, salah seorang kuli panggul di Pelabuhan Tamperan, Sidoharjo, Pacitan, kemarin (4/1).

Biasanya, untuk mengangkut ikan hasil tangkapan nelayan, dia mendapat upah Rp 50 ribu per ton. Dalam sekali kapal datang biasanya Mislan dapat mengangkut puluhan kali. Namun, lantaran kerjanya tak sendiri, upahnya harus dibagi. Sehingga, dia hanya menerima sekitar Rp 200 ribu dari satu kapal. ‘’Ngangkutnya minimal harus berdua, karena berat dan juga besar,’’ ujarnya.

Sepinya penghasilan ini berlangsung sejak awal Desember 2018 lalu. Penyebabnya musim baratan yang membuat para nelayan besar enggan beranjak dari pelabuhan. Itu tak lepas minimnya ikan di laut serta tingginya gelombang. ‘’Kalau terpaksa melaut juga hasilnya gak seberapa, malah kebanyakan rugi,’’ ungkapnya.

Agar dapurnya tetap ngebul, dia mengandalkan tangkapan ikan di sekitar dermaga. Pada pagi hari, dia nekat melaut dengan kapal tradisionalnya. Namun, karena cuaca buruk, dia hanya berani angkat jangkar tak lebih dari tiga jam. ‘’Paling lokasinya di sekitar sini saja, lempar jaring sekali dua kali lalu pulang kalau sudah dapat ikan,’’ tuturnya.

Sutrisno, salah seorang anak buah kapal (ABK) slerek, juga merasakan hal yang sama. Tak adanya order membuat dia harus betah menganggur di rumah. Pasalnya, pada musim barat seperti ini tak ada satu pun kapal besar yang melaut. Bahkan, mayoritas ABK dari luar kota memilih pulang ke kampung halaman. ‘’Kalau nganggur ya seperti ini, mancing,’’ kata Sutrisno.

Sebelum vakum, lanjut dia, sekali melaut biasanya diupah Rp 400 ribu hingga Rp 700 ribu dari pemilik kapal. Tergantung lamanya melaut dan hasil tangkapan. Jika tangkapan melimpah dia bisa membawa pulang uang hingga jutaan rupiah. Meski harus di tengah samudra lebih dari satu minggu. ‘’Kalau di sana (kapal, Red) kami juga mancing sendiri, jadi ada tambahan,’’ ujarnya.

Dia sempat bertani beberapa waktu lalu, namun lahannya telah berpindah tangan. Alhasil, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari Sutrisno terpaksa ngutang di warung tetangga. ‘’Nanti kalau sudah kembali melaut baru dilunasi. Mau kerja apa, bisanya cuma ini (jadi ABK, Ted),’’ akunya. (mg6/c1/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here