Kinerja Diskominfo Terancam Pincang jika Dad Ditahan

176

MAGETAN – Kinerja dinas komunikasi dan informatika (diskominfo) terancam limbung. Ini menyusul Dad, salah seorang kepala bidang (kabid) berstatus tersangka kasus korupsi program kali bersih (prokasi) dan composting Pasar Sayur. Apabila sampai dilakukan penahanan akan berdampak serius. ’’Ibaratnya kalau sepeda motor, bannya kempes satu apa bisa jalan?’’ Pelaksana tugas (plt) Kepala Diskominfo Magetan Venly Tomi Nicolas

Dia mengatakan, Dad, merupakan kabid teknologi, informasi dan komunikasi diskominfo. Dilimpahkanya dugaan perkara korupsi dari kepolisian ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Magetan itu membuat Venly menepuk jidatnya.

Pasalnya, kemungkinan terburuk yang bakal menimpa Dad yakni ditahan oleh pihak kejaksaan. Jika benar terjadi, maka dalam waktu dekat Venly bakal melepas salah satu kabidnya itu. Sehingga dia hanya akan memiliki dua kabid. Kondisi itu jelas memberi pengaruh kepada kinerja diskominfo. ’’Di bidang itu hanya ada satu kepala seksi (kasi). Tapi pekerjaan harus tetap jalan, semua personel akan kami berdayakan,’’ jelasnya.

Memang, kemampuan antara kasi dan kabid jelas berbeda. Terutama dalam hal kewenangan. Venly memilih untuk konsultasi dahulu, apakah jabatan yang ditinggal Dad itu harus di-Plt-kan. Jika terpaksa, dia pun bakal suka rela mengambil alihnya agar Diskominfo tetap bisa berjalan. Keputusan pergantian atau pun diisi oleh Plt, itu menjadi kewenangan Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kabupaten Magetan. ’’Tapi, sampai sekarang tidak ada masalah. Karena yang bersangkutan masih masuk dan bekerja seperti biasa,’’ ungkapnya.

Hingga kini, diskominfo masih belum melaporkan dugaan kasus jasa kebersihan yang dilakukan Dad itu kepada BKD. Venly masih mencari dasar untuk laporan tersebut, yakni tembusan surat penetapan tersangka. Sebab, Venly hanya memegang surat panggilan dari pihak kepolisian perihal pemeriksaan Dad sebagai tersangka dalam dugaan korupsi yang merugikan negara hingga Rp Rp 309.484.237,39 itu. ’’Kalau surat panggilan tidak bisa dijadikan dasar,’’ terangnya.

Pertama Venly dipercaya menjadi Plt diskominfo pada Juli lalu, dia langsung mengkonfirmasi kebenaran dugaan korupsi tersebut. Dad pun mengiyakan jika dirinya sudah ditetapkan sebagai tersangka. Namun, hingga kini masih belum mengambil tindakan. Karena keterbatasan dasar laporan kepada BKD. Bagian hukum pun rupanya tidak memiliki surat tembusan penetapan tersangka tersebut. ‘’Tetap akan kami proses,’’katanya.

Berbeda dengan Venly yang kalang kabut karena terancam kehilangan salah seorang penggawanya, Kabid Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLH Kabupaten Magetan Sumarwidi lebih santai. Padahal, salah satu kasinya, EP juga menjadi tersangka dalam dugaan korupsi pekerjaan jasa kebersihan di pasar tradisional itu. ’’Tidak masalah, kasi hilang kan masih ada kabid yang bisa mengambil pekerjaannya,’’ terangnya.

Dia memilih menyerahkan permasalahan itu kepada Plt DLH Agung Lewis. Juga, kepada BKD Kabupaten Magetan yang memiliki kewenangan pada bidang kepegawaian tersebut. Urusan bakal hilangnya salah satu kasinya itu, dia tak mau ambil pusing. Dia berdalih tidak memiliki kewenangan apapun. ’’Urusan saya dengan sampah,’’ pungkasnya. (bel/ota)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here